"Lagu Panggilan Jihad.mp3"

Rabu, 26 Mei 2010

Doa dan Ikhtiar

Marilah kita berusaha untuk terus-menerus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah. Laksanakanlah perintah-perintah Allah semaksimal yang kita mampu dan jauhilah apa-apa yang dilarang-Nya secara keseluruhan.

Hampir setiap hari, bahkan dalam sehari semalam beberapa kali kita semua berdoa, memohon kepada Allah SWT. Yang sakit mohon kesembuhan. Yang mempunyai masalah mohon agar diselesaikan permasalahannya, berdoa mohon limpahan rizki dan seterusnya, Dari Hadits-hadits Nabi SAW kita juga sering mendengar, bahwa doa merupakan inti sari dari ibadah. Doa juga sebagai senjata bagi seorang mukmin.

Singkat kata, kita tak pernah lepas dari doa, Siang malam kita memohon, berdoa, bermunajah karena didorong rasa butuh atas berbagai karunia yang dimiliki oleh Allah. Dalam keadaan sulit, doa yang dipanjatkan sering kali dibarengi dengan tangisan, yang sekaligus sebagai pengakuan bagaimana kecil, lemah dan hinanya kita di hadapan Allah yang maha Besar.

Sering kali di dalam hati kita merasa bahwa doa-doa yang selama ini kita panjatkan belum di ijabahi oleh Allah, Bahkan mungkin ada juga yang merasa tidak diijabji oleh Allah,Yang pasti Allah yang telah memberi berbagai karunia sekalipun tanpa diminta, memerintahkan kita untuk berdoa, memohon dalam masalah apapun juga, Dan Dia Allah SWT, menjanjikan pengkabulan dari setiap doa yang dipanjatkan kepada-Nya.

Mintalah/berdoalah kepada-Ku, Aku akan memenuhinya.
Namun yang perlu kita ingat, bahwa terdapat syarat, tata cara dan adab dalam berdoa memohon kepada Allah, Iman, makanan yang halal, tidak memutuskan tali silaturrahmi, dan lain-lain merupakan sebagian dari syarat diterimanya sebuah doa.

Begitu juga dengan tata cara dan adab, seperti: dalam keadaan suci, memulai dengan membaca hamdalah, mengulang-ulang doanya hingga 3 kali, menghadap kiblat dan lain-lain, Pada dasarnya, bila persyaratan bagi terkabulnya sebuah doa telah terpenuhi, tak satupun doa yang tak diijabahi oleh Allah SWT, Hanya saja bentuk pengkabulan atau ijabah dari Allah melalui beberapa cara, Berdasarkan beberapa hadits dan riwayat, bentuk pengkabulan tersebut sesuai dengan apa yang diminta pemohon, dapat juga di tunda untuk beberapa waktu, atau dialihkan bala’ yang akan menimpa si pendoa, dan dapat pula dalam bentuk simpanan bagi si pendoa di akhirat kelak, Karena itu juga dalam kondisi apapun kita jangan sampai meninggalkan doa Husnudz dzan atau berprasangka baik terhadap Allah, juga termasuk kunci dari di ijabahi-tidaknya doa-doa kita.

Kita memohon berdoa menghendaki sesuatu, yang menurut pikiran kita bagus, Padahal bagus menurut pikiran kita, belum tentu dalam kenyataannya akan bagus, Sementara Allah SWT yang akan mengijabahi doa seseorang, mengetahui secara pasti apa hakekat baik dan yang terbagus untuk seseorang, Allah berfirman: Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al-Baqarah; 216)

Sekalipun Allah menjanjikan akan mengabulkan doa, namun mutlak masih memerlukan usaha dari si pemohon, Entah seperti apa dan bagaimana usaha yang dilakukan, yang penting usaha dengan cara-cara yang tidak melanggar larangan Allah, Dan sabar, merupakan kunci segala-galanya termasuk dalam pengkabulan doa.

Allah berfirman : Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Baqarah 153).

Dalam berbagai kesempatan, beberapa sahabat datang kepada Rasulullah SAW dan mohon agar didoakan, Mereka ingin lepas dari berbagai kesulitan yang sedang menimpa, Kepada mereka yang meminta doa ini, sering kali Rasulullah SAW tidak langsung mendoakannya, namun beliau mengingatkan, Bahwa bila seseorang sabar terhadap apa yang sedang menimpanya, maka akan mendapatkan pahala yang banyak dan surga.

Namun bila tetap memintanya untuk berdoa, maka beliaupun akan mendoakan, Sebagian sahabat yang datang meminta doa, memilih pahala dan surga dengan akan terus bersabar terhadap cobaan yang sedang mereka alami, Sebagian yang lain, memilih agar Rasulullah SAW mendoakan mereka,
Dalam sebuah sabdanya beliau SAW mengatakan:

“Kelak di hari kiamat, akan didatangkan mizan atau timbangan amal, Mereka para ahli sholat akan ditimbang amalnya, lalu akan diperhitungkan pahalanya, Begitu juga dengan mereka yang ahli puasa, mereka akan ditimbang amalnya dan akan diberi pahala, Lalu akan didatangkan para ahli bala’ (yakni manusia yang semasa hidupnya dahulu banyak menerima cobaan dan sabar menghadapinya) mereka diberi pahala tanpa perhitungan, tanpa melalui timbangan amal dan tanpa melihat catatan amalnya.

Karena sangat tingginya kedudukan ini, sampai-sampai mereka yang tidak termasuk ahlul bala’ mengatakan, “Andaikata aku seperti dia” Yakni andaikata aku di dunia dahulu juga seperti dia termasuk orang yang banyak menerima cobaan, Semua ini karena sangat banyaknya pahala yang mereka terima, bahkan tanpa perhitungan lagi.

Kami kira tak satupun dari kita yang mengharap cobaan, Namun yang perlu kita ingat, tak satupun dari kita yang akan terbebas dari cobaan, Yang kita minta kepada Allah dalam doa-doa kita, adalah agar dijauhkan dari cobaan yang berat, kelembutan, dan rasa sabar dalam menerimanya, Karena itu juga, jangan sampai kita bosan apalagi berputus asa dalam berdoa, memohon kepada Allah, Setelah itu kita wajib berusaha, berikhtiar sebagai upaya melepaskan diri dari berbagai cobaan Dan terakhir, sekalipun mudah untuk diucapkan tetapi sulit untuk dipraktekkan, kita berusaha dan melatih diri untuk terus bersabar.

Insya Allah semuanya mampu kita hadapi dengan kesabaran, ketawakkalan dan diberi pahala oleh Allah, Semoga Allah SWT menjaga kita semua dari berbagai bala’, bencana dan cobaan yang kita tak kuasa memikulnya, Serta menganugerahi kita hati yang sabar dan tawakkal dalam menghadapi apapun juga, amiiiiin.

Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal sholeh, saling memberi nasehat mengenai kebenaran dan saling memberi nasehat mengenai kesabaran, Ingatlah bahwa dosa dan kemaksiatan telah menghitam kelamkan hati kita, Bergegaslah untuk menghapusnya dengan bertaubat, Mohonlah dibukakan pintu rahmat dengan istighfar, karena hanya Allah-lah yang kusa membukanya.

Janganlah Anda menjadikan dunia sebagai tumpuan harapan hingga melupakan akhirat, Ambilah pelajaran dari umat terdahulu, Mereka yang mempunyai kedudukan yang tinggi, kekayaan yang melimpah, kekuatan yang perkasa, kesemuanya kini berbaring kaku di dalam perut bumi, Mereka tertidur berbantalkan tanah, setelah sebelumnya tinggal di rumah yang telah mereka bangun hingga melalaikan perintah Allah.

Kamis, 20 Mei 2010

Berkata Bohong

Apakah engkau terbiasa melakukan kedustaan atau berkata-kata bohong? Jika benar, maka hendaknya engkau segera menghentikan kebiasaan buruk itu. Berkata bohong memang seringkali mengasyikkan. Tetapi tahukah engkau bahwa perbuatan itu tergolong dosa yang sangat besar.

Apabila dirimu mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya, maka itulah yang disebut bohong. Agama islam sangat mencela perbuatan keji tersebut karena kebohongan dapat merugikan berbagai pihak, termasuk dirimu sendiri.

Apabila engkau terbiasa berkata bohong dan orang lain tahu ketidak jujuranmu, maka kepercayaan mereka terhadapmu akan hilang. Artinya, engkau tak akan lagi dipercaya meskipun kata-katamu itu sesungguhnya benar.

Kebohongan dapat merugikan dirimu didunia maupun akhirat. Orang yang suka berbohong, di akhirat akan mendapat siksa dari Allah swt.

Kemudian kita sama-sama berdoa kepada Allah dan memohon agar supaya laknat Allah di timpahkan kepada orang-orang yang berbuat bohong.QS.Ali Imron 61

Dan jika ia seorang pembohong maka dialah yang menanggung (dosa) bohongnya itu; dan jika ia seorang yang benar niscaya sebagaian (musibah) yang di ancamkanNya kepada kalian akan menimpa sebagaian kalian. Sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang yang melampaui batas lagi pembohong. QS.Al Mukmin 28

Di samping itu, ada pula beberapa hadis yang perlu juga untuk engkau renungkan agar tidak terbiasa melakukan kebohongan. Misalnya hadis berasal dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda:

Jauhilah kepada kalian akan berprasangka buruk, karena berprasangka buruk itu sebohonbohong perkataan. HR. Bukhari dan Muslim

Kemudian hadis dari Abu Mas'ud ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda:

Sesungguhnya berkata benar menuntun kepada kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan itu menuntun ke surga, dan sesungguhnya seorang laki-laki akan senantiasa berkata benar sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang berkata benar. Dan sesungguhnya bohong itu menuntun kepada kedosaan dan sesungguhnya kedosaan itu menuntun ke neraka, dan sesungguhnya seorang laki-laki akan dicatat di sisi Allah sebagai pembohong.

Dalam riwayat lain, Rasulullah saw. juga menganggap pembohong itu dalam kebinasaan.

Celakalah berkata-kata dengan kata-kata yang menyebabkan manusia menertawakannya padahal ia berbohong, celakalah baginya, celakalah baginya, celakalah baginya. HR. Imam Ahmad dan Turmudi

Jelaslah bahwa berkata bohong itu dapat mencelakakan dan memasukkan kedalam neraka dan benar-benar diperintahkan untuk dijauhinya, karena itu berkata bohong ternasuk perbuatan dosa dan juga termasuk salah satu dari ciri-ciri orang munafiq.

Sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadis Rasulullah saw:

Cir-ciri orang munafiq itu ada tiga, meskipun ia shalat, puasa dan ia orang Islam yaitu: apabila berkata ia berbohong, apabila berjanji mengingkari dan apabila ia dipercaya berkhianat. HR. Imam Muslim dan Bukhari

Jumat, 14 Mei 2010

Kisah Ashabul kahfi

Sejak dahulu kala, bahkan jauh sebelum agama Islam muncul di muka bumi, para nabi dan rasul telah diutus untuk menyampaikan wahyu Allah SWT dan syari?at-Nya kepada umat manusia. Para rasul itu adalah orang-orang terpilih dari kalangan pemuda. Di antara mereka ada yang diberi kemampuan luar biasa dalam berargumen dan berdebat, sebelum usianya genap delapan belas tahun.
Nabi Ibrahim a.s., misalnya, seperti dijelaskan dalam Al-Qur?an, adalah pemuda yang sering berdebat dengan kaumnya, menentang peribadatan kepada patung-patung yang tidak dapat bicara, memberi manfaat dan mudharat (QS Al-Anbiya:60-67). Kita juga ingat kisah Ashabul Kahfi ?

Ashabul Kahfi adalah sekelompok pemuda yang beriman kepada Allah, mereka terdiri atas tujuh orang, sebagaimana yang dijelaskan dalam Al Qur`an. Dalam gua, para pemuda mukmin ini tinggal untuk merenung dan berpikir, akhirnya mereka keluar dengan sebuah kesimpulan yang pasti bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan seluruh alam, mereka tidak akan beriman kecuali kepada-Nya dan tidak akan menyembah selain Dia.

Mereka mengetahui bahwa kaum mereka adalah orang-orang kafir, karena menyembah selain Allah. Kekafiran mereka menyebabkan kezaliman dan kebohongan. Para pemuda mukmin ini lalu memikirkan langkah berikutnya, yaitu dengan mengasingkan diri, lalu memutuskan untuk meninggalkan kaumnya, karena mereka adalah orang yang beriman sedang kaumnya adalah kaum yang kafir, dan tidak mungkin bagi para pemuda itu untuk tinggal bersamanya.

Mereka lalu meninggalkan kota dan pergi ke sebuah gunung, kemudian memutuskan untuk berlindung dalam gua di gunung itu. Mereka memohon kepada Allah agar mencurahkan rahmat-Nya bagi mereka. Allah mengabulkan permohonan mereka. Rahmat Allah diturunkan kepada mereka, Dia memerintahkan matahari agar tidak menyinari tubuh mereka, sehingga tidak merusaknya.

Diantara tanda-tanda kekuasaan Allah atas mereka adalah bahwa mata mereka tetap terbuka, sehingga orang yang melihat menyangka mereka terjaga dan dapat melihat, padahal mereka tidur nyenyak. Bahkan, bumi tidak menelan tubuh mereka, karena Allah membalikkan mereka sesekali ke kanan dan ke kiri.

Bersama mereka ada seekor anjing yang menjadi teman mereka. Anjing itu duduk di ambang pintu gua, menjunlurkan kedua lengannya, dan tidur seperti penghuni gua itu. Sehingga tidak seorang pun yang berani mengganggu mereka ketika tidur. Allah telah membuat hati siapa saja yang melihat mereka menjadi takut, jika ia menoleh kepada mereka, ia akan melarikan diri ketakutan.
Mereka tidur cukup lama, disebutkan dalam Al Qur`an selama 309 tahun! Setelah itu, Allah membangunkan mereka, sehingga mereka bertanya-tanya berapa lama mereka tidur, namun mereka berbeda pendapat. Diantara mereka ada yang mengatakan, “Kami tidur selama satu atau setengah hari!”

Akan tetapi mereka tidak memperpanjang perdebatan itu karena memang mereka tidak mengetahuinya, mereka dalam gua.
Lalu mereka menunjuk salah seorang diantara mereka untuk pergi ke kota, membekalinya dengan uang untuk membeli makanan. Demikian pula agar ia waspada dan berhati-hati agar tidak ada seorang pun yang mengenali dan mengetahuinya, karena mereka merasa takut terhadap kaum mereka. Jika mereka mengetahui penghuni gua dan tempat tinggal mereka, niscaya kaumnya akan membunuh mereka atau membujuk mereka agar kembali ke agama mereka dan perbuatan syirik.

Pergilah pemuda itu untuk membeli makanan ke pasar. Namun Allah menghendaki hal lain. Allah ingin menjadikan diantara mereka tanda kekuasaan-Nya dan sebagai bukti atas kemampauan Allah Yang Maha Suci untuk membangkitkan.

Allah menampakkan mereka pada kaum mereka. Sementara itu, kaum itu telah menjadi kaum yang beriman kepada Allah, generasi sebelumnya yang kafir telah lenyap. Yang sekarang hidup adalah generasi yang beriman.

Setelah penduduk negeri itu melihat laki-laki mukmin itu, mereka menyusulnya ke gua, tatkala mereka tiba di gua, mereka mendapatkan ketujuh lelaki mukmin itu telah wafat, kali ini benar-benar wafat dalam keadaan yang wajar. Demikianlah akhir kisah tentang iman, ikhlas, dan zuhud di dunia untuk kembali kepada Allah.


Doa Ashabul Kahfi

رَبَّنا ءَاتِنا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئ لَنا مِنْ أَمْرِنا رَشَداً

“Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).

Para pengharap rahmat Ilahi dan pencari jalan lurus, iman, kebahagiaan dan petunjuk Ilahi pantas membaca doa tersebut

Kamis, 13 Mei 2010

Kegunaan Adzan Dan Arti Dari SWT, SAW, AS, dan RA

Kegunaan Adzan

1. Memanggil Sholat

Adzan diperintahkan untuk memanggil umat Islam sebagai tanda masuknya waktu sholat. Hal ini sudah masyhur (terkenal) di kalangan umat Islam dan tidak ada khilaf, perbedaan pendapat antara kaum muslimin tentang hal ini. Semuanya sepakat dalam hal bahwa adzan digunakan untuk panggilan sholat.

Dalil-dalil Qur’an tentang ini adalah;
Surat al Jumu’ah ayat 9: Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
Surat al-Maidah ayat 58 : “dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sembahyang, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal.


Adapun dalil-dalil hadis tentang hal ini adalah;

Dari Abdullah bin Zaid bin Abduh Rabihi radhiyallahu ‘anhu berkata dia, “Manakala Rasulullah telah memerintahkan untuk memakai lonceng yang dibunyikan bagi memanggil manusia untuk berkumpul melaksanakan sholat berjamaah, telah berkeliling kepadaku seorang lelaki yang sedang memegang sebuah lonceng ditangannya, pada saat itu aku sedang tidur (bermimpi). Aku berkata, “Wahai hamba Allah apakah engkau menjual lonceng?” orang itu berkata,” Untuk apa lonceng bagimu?” Aku berkata, “Kami mau memanggil manusia untuk melakukan sholat dengan lonceng itu.” Kemudian orang yang dalam mimpi itu berkata, “ Maukah engkau aku tunjukkan sesuatu yang lebih baik daripada memukul lonceng?” lalu aku menjawab, “iya.” Maka orang itu berkata lagi ucapkan olehmu, “Allahu Akbar 4x ..(dan seterusnya sampai selesai kalimat adzan lengkap - pen). Kemudian orang itu mundur tidak jauh daripadaku dan dia berkata, “Jika engkau telah selesai sholat (sunat) maka ucapkanlah Allahu Akbar 2x ….. (bacaan iqomat sampai selesai – pen). Setelah aku terbangun di subuh hari, aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan tentang mimpiku. Maka Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya mimpimu adalah mimpi yang benar, Insya Allah.” Maka berdirilah bersama Bilal dan ajarkanlah kepada Bilal tentang mimpimu itu agar Bilal beradzan seperti itu, karena suara Bilal lebih baik dari suaramu. Maka aku berdiri bersama Bilal dan mengajarkan seruan adzan itu secara perlahan sementara Bilal menyerukan suara adzan itu dengan keras. Maka telah mendengar Umar bin Khatab di rumahnya akan seruan adzan Bilal tersebut, kemudian beliau segera keluar dari rumahnya sambil menyandang selendangnya. Umar berkata, ”Demi Allah yang telah mengutus Engkau ya Rasul dengan haq, sungguh aku telah melihat dalam mimpiku serupa dengan yang dialami Abdullah bin Zaid itu. Maka Rasulullah menjawab, ”Bagi Allah sajalah segala puji .”(HR. Tarmidzi dan Abu Dawud, sanad yang shohih)


2. Adzan dan Iqomat Pada Anak yang Baru Lahir

Disunnatkan juga mengadzankan anak yang baru lahir pada telinga kanannya dan mengiqomatkan anak tersebut pada telinga kirinya, seperti adzan dan iqomat pada sholat 5 waktu. Tidak berbeda perlakuan adzan dan iqomat ini kepada anak laki-laki ataupun anak perempuan. Hal ini disandarkan pada beberapa hadis antara lain;

Dari Abi Rofi’ radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah mengadzankan Sayyidina Husain di telinganya pada saat Sayyidina Husain baru dilahirkan oleh Sayyidatuna Fatimah dengan bacaan adzan untuk sholat .” (HR. Ahmad, Abu dawud, Tarmidzi, dishohihkannya).

Dari Abi Rofi’ berkata dia, “Aku pernah melihat Nabi melakukan adzan pada telinga Al Hasan dan Al Husain radhiyallahu ‘anhuma.” (HR. Thabrani).

Barangsiapa yang kelahiran seorang anak, lalu anaknya diadzankan pada telinganya yang sebelah kanan serta di iqomatkan pada telinga yang kiri, niscaya tidaklah anak tersebut diganggu oleh Ummu Shibyan (HR. Ibnu Sunni, Imam Haitsami menuliskan riwayat ini pada Majmu’ Az Zawaid, jilid 4,halaman 59). Menurut pensyarah hadis, Ummu Shibyan adalah jin wanita yang selalu mengganggu dan mengikuti anak-anak bayi.


Arti Dari SWT, SAW, AS, dan RA


Selaku kaum muslim, kita seringkali menemukan istilah-istilah SWT, SAW, AS, dan RA pada saat mempelajari Islam. Apa yang dimaksud dengan istilah-istilah tersebut?

SWT adalah singkatan dari Subhanallahu Wa ta’ala yang mempunyai arti “Engkau yang Maha Suci ya ALLOH Dan Maha Tinggi”. Kita biasa mengucapkan hal ini apabila nama ALLOH telah disebutkan. Karenanya kita akan jumpai tulisan ALLOH SWT.

SAW adalah kependekan dari Shallallahu `alaihi Wa Sallam, yang disunnahkan kepada kita untuk mengucapkannya pada saat menyebut atau mendengar nama Rasululloh SAW. Arti dari istilah ini adalah “Semoga ALLOH SWT memberikan shalawat dan salam kepadanya”. Karenanya kita akan banyak dapatkan tulisan Rasululloh SAW.

AS sendiri adalah kependekan dari Alaihis Salam yang bermakna “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadanya”. Kita akan dapati di akhir nama para Nabi dan Rasul.

RA adalah istilah untuk menyingkat lafaz Radhiyallahu `anhu/`anha / `anhum. Biasanya digunakan dan diberikan kepada para sahabat Rasululloh SAW. Maknanya adalah “Semoga ALLOH SWT meridhoinya”. Ada beberapa ketentuan mengenai hal ini. Apabila di bagian akhir `anhu itu berarti satu orang laki-laki. Sementara jika kata terakhirnya adalah `anhum maka ini berarti banyak (jamak) dan sedangkan jika kata terakhirnya adalah `anha maka ditujukan untuk seorang wanita.


Smg Bermanfaat

Senin, 10 Mei 2010

Nasihat Berharga Bag 3

1. Kesabaran yang disertai iman kepada Allah membawa kemenangan.

2. Orang yang bahagia adalah orang yang merendah diri dan mengharapkan syafaat dari Tuhannya dengan amal-amal solehnya.

3. Bila kamu memohon sesuatu dari Allah dan berdoa, maka Ikhlaskanlah niatmu. Demikian pula puasa dan solatmu.

4. Janganlah bersumpah dengan keadaan kamu berdusta dan janganlah menuntut sumpah dari orang yang berdusta agar kamu tidak menyekutui mereka dalam dosa.

5. Taatlah kepada raja-rajamu dan tunduklah kepada pembesar-pembesarmu Apabila keduanya tadi amat taat kepada Allah, serta penuhilah selalu mulut-mulutmu dengan ucapan syukur dan puji kepada Allah.

6. Janganlah Iri kepada orang yang mujur nasibnya, karena mereka tidak akan lama menikmati kemujuran nasibnya.

7. Barangsiapa melampaui kesederhanaan, tidak suatupun akan memuaskannya.

8. Tanpa membagi-bagikan nikmat yang diperoleh, seseorang tidak dapat bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat yang diperolehinya itu.

NASAIHUL IBAD

Sabtu, 08 Mei 2010

Bersukur Dan Bahagia

Alkisah, ada seorang pedagang kaya yang merasa dirinya tidak bahagia. Dari pagi-pagi buta, dia telah bangun dan mulai bekerja. Siang hari bertemu dengan orang-orang untuk membeli atau menjual barang. Hingga malam hari, dia masih sibuk dengan buku catatan dan mesin hitungnya. Menjelang tidur, dia masih memikirkan rencana kerja untuk keesokan harinya. Begitu hari-hari berlalu.

Suatu pagi sehabis mandi, saat berkaca, tiba-tiba dia kaget saat menyadari rambutnya mulai menipis dan berwarna abu-abu. “Akh. Aku sudah menua. Setiap hari aku bekerja, telah menghasilkan kekayaan begitu besar! Tetapi kenapa aku tidak bahagia? Ke mana saja aku selama ini?”

Setelah menimbang, si pedagang memutuskan untuk pergi meninggalkan semua kesibukannya dan melihat kehidupan di luar sana . Dia berpakaian layaknya rakyat biasa dan membaur ke tempat keramaian.

“Duh, hidup begitu susah, begitu tidak adil! Kita telah bekerja dari pagi hingga sore, tetapi tetap saja miskin dan kurang,” terdengar sebagian penduduk berkeluh kesah.

Di tempat lain, dia mendengar seorang saudagar kaya; walaupun harta berkecukupan, tetapi tampak sedang sibuk berkata-kata kotor dan memaki dengan garang. Tampaknya dia juga tidak bahagia.

Si pedagang meneruskan perjalanannya hingga tiba di tepi sebuah hutan. Saat dia berniat untuk beristirahat sejenak di situ, tiba-tiba telinganya menangkap gerak langkah seseorang dan teriakan lantang, “Huah! Tuhan, terima kasih. Hari ini aku telah mampu menyelesaikan tugasku dengan baik. Hari ini aku telah pula makan dengan kenyang dan nikmat. Terima kasih Tuhan, Engkau telah menyertaiku dalam setiap langkahku. Dan sekarang, saatnya hambamu hendak beristirahat.”

Setelah tertegun beberapa saat dan menyimak suara lantang itu, si pedagang bergegas mendatangi asal suara tadi. Terlihat seorang pemuda berbaju lusuh telentang di rerumputan. Matanya terpejam. Wajahnya begitu bersahaja.

Mendengar suara di sekitarnya, dia terbangun. Dengan tersenyum dia menyapa ramah, “Hai, Pak Tua. Silahkan beristirahat di sini.”

“Terima kasih, Anak Muda. Boleh bapak bertanya?” tanya si pedagang.

“Silakan.”

“Apakah kerjamu setiap hari seperti ini?”

“Tidak, Pak Tua. Menurutku, tak peduli apapun pekerjaan itu, asalkan setiap hari aku bisa bekerja dengan sebaik2nya dan pastinya aku tidak harus mengerjakan hal sama setiap hari. Aku senang, orang yang kubantu senang, orang yang membantuku juga senang, pasti Tuhan juga senang di atas sana . Ya kan ? Dan akhirnya, aku perlu bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan atas semua pemberiannya ini”.

Teman-teman yang luar biasa,

Kenyataan di kehidupan ini, kekayaan, ketenaran, dan kekuasaan sebesar apapun tidak menjamin rasa bahagia. Bisa kita baca kisah hidup seorang maha bintang Michael Jackson yang meninggal belum lama ini, yang berhutang di antara kelimpahan kekayaannya. Dia hidup menyendiri dan kesepian di tengah keramaian penggemarnya; tidak bahagia di tengah hiruk pikuk bumi yang diperjuangkannya.

Entah seberapa kontroversial kehidupan Jacko. Tetapi, yah… setidaknya, dia telah berusaha berbuat yang terbaik dari dirinya untuk umat manusia lainnya.

Mari, jangan menjadi budaknya materi. Mampu bersyukur merupakan kebutuhan manusia. Mari kita berusaha memberikan yang terbaik bagi diri kita sendiri, lingkungan kita, dan bagi manusia-manusia lainnya. Sehingga, kita senantiasa bisa menikmati hidup ini penuh dengan sukacita, syukur, dan bahagia

Mengapa Air Mata Asin Rasanya? Mengapa Air Liur Tawar Rasanya? Mengapa Air Telinga Pahit Rasanya?

Allah menciptakan air mata rasanya asin, tujuannya agar dapat menjaga kesehatan mata, sebab lemak yang ada pada mata mudah sekali rusak, maka air matapun diciptakan asin untuk memelihara keduanya.

Dan Allah menciptakan air liur itu rasanya tawar agar dapat mencicipi berbagai jenis rasa sesuai dengan rasa aslinya. Sebab, bila rasanya tidak tawar, tentunya setiap rasa akan berubah. Misalnya orang yang air liurnya menjadi pahit karena penyakit, maka segala sesuatu yang dicicipinya menjadi pahit, padahal sebenarnya tidak pahit.

Seorang penyair berkata :
Siapa saja yang air liurnya pahit karena sakit
Maka air tawar akan terasa pahit baginya

Sudah merupakan ketentuan Allah Subhaanahu Wata’aala bahwasannya air telinga itu pahit rasanya. Fungsinya adalah agar hewan-hewan kecil tidak mudah masuk ke dalam rongga telinga. Setiap kali ada hewan kecil yang berusaha masuk ke dalamnya, pastilah ia akan segera berbalik mencari jalan keluar.

Pengikut