"Lagu Panggilan Jihad.mp3"
Tampilkan postingan dengan label Nasaihul Ibadah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasaihul Ibadah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Desember 2011

Nasihat Berharga Bag 6

Empat sifat tidak terdapat pada seseorang kecuali pada orang mukmin yaitu:


1 - Diam dan ini ibadat yang pertama.

2 - Tawadhuk.

3 - Dzikrullah atau berzikir.

4 - Tidak berbuat kejahatan.

Enam macam menunjukkan kebodohan yaitu:


1 - Marah tidak pada tempatnya, seperti marah pada seseorang, binatang atau lain-lainnya.

2 - Bicara yang tidak berguna kerana itu seharusnya seorang yang berakal tidak bicara kecuali jika penting dan berguna.

3 - Pemberian yang tidak pada tempatnya seperti pemborosan harta atau memberi kepada orang yang tidak akan berguna baginya.

4 - Membuka rahasia pada semua orang.

5 - Tidak membedakan antara kawan dengan lawan karena itu harus mengetahui siapa musuh dan siapa kawan. Kawan untuk ditaati dan musuh untuk diawasi dan musuh yang utama ialah syaitan laknatullah, yang benar-benar harus dijauhinya.

Lima sifat yang tidak ada pada orang munafiq yaitu:


1 - Pengertian agama.

2 - Berhati-hatilah dalam lidah.

3 - Senyum dimuka.

4 - Nur (terang) dalam hati.

5 - Cinta kepada kaum muslimin.

Diam mengandungi tujuh ribu kebaikan dan tersimpul dalam tujuh kalimat dalam tiap kalimat seribu yaitu:


1 - Diam itu ibadat tanpa susah payah.

2 - Perhiasan tanpa berhias.

3 - Kehebatan tanpa kerajaan.

4 - Benteng tanpa pagar.

5 - Kekayaan tanpa minta maaf kepada orang.

6 - Istirahat bagi kedua Malaikat pencatat amal.

7 - Menutupi segala aib.


Nabi Isa a.s. berkata: "Jangan banyak bicara selain dzikir kepada Allah s.w.t. sebab banyak bicara menyebabkan hati menjadi beku dan hati yang beku itu jauh dari Allah s.w.t. tetapi engkau tidak mengetahui."

Seorang sehabat berkata: "Jika engkau merasa keras hatimu dan lemah badanmu dan berkurang rezekimu, maka ketahuilah bahawa engkau telah bicara yang bukan kepentinganmu."

Sabtu, 27 Agustus 2011

Nama-Nama Surah al-Fatihah

Menurut kitab Khazinatul-Asrar karangan al-Ustadz Muhammad Hakky an-Nazily, Surah al-Fatihah ini mempunyai 30 nama.

Nama- nama itu ada yang diambil dari berbagai hadis Nabi mengenai al-Fatihah, dan ada pula yang ditetapkan oleh para sahabat dan Tabi'in.

Nama-nama tersebut adalah:
1- AL-FATIHAH atau FATIHATUL KITAB
Artinya: ialah pembuka atau pembuka kitab, dan nama ini terdapat didalam banyak hadis seperti telah kita sebutkan ini.

2- UMMUL-KITAB
Artinya: induk kitab, dan nama ini juga terdapat di dalam banyak hadis sebagai telah kita sebutkan sesudah ini,UMMUL-kitab diartikan bahwa al-Fatihah mengandung semua persoalan yang terdapat didalam al-Quran, yaitu Ketuhanan, Alam, Akhirat, Ibadah, dan sejarah- sejarah.

3- UMMUL-QURAN
Artinya: Induk al-Quran, juga nama ini terdapat dalam hadis, berbagai pendapat kenapa dinamai UmmulQuran, diantaranya adalah karena al-Fatihah ini isinya dianggap sebagai keringkasan dari isi seluruh al-Quran.

4- AL-QURAN-AL-AZHIM
Artinya: Bacaan Agung, nama ini juga terdapat dalam hadis, dinamakan bacaan agung karena isi al-Fatihah ini semuanya mengenai masalah-masalah yang amat besar atau agung.

5- AS-SABUL MATSANY
Artinya: Tujuh yang Berulang- ulang, nama ini paling banyak tersebut dalam hadis-hadis, dinamakan tujuh, karena memang terdiri dari 7 ayat, dan dikatakan berulang-ulang karena memang bayak ayat-ayatnya dibaca berulang-ulang, baik di dalam ayat-ayat al-Quran lainnya atau dalam shalat atau diluar shalat.

6- AL-WAFIAH
Artinya: Mencakup, karena isinya mencakup seluruh isi al-Quran dan meliputi keterangan-keterangan tententang tuhan dan keterangan-keterangan tentang manusia.

7- AL-WAQIAH
Artinya: Tameng, nama ini diberikan oleh Yahya bin Abu Katsir, karena al-Fatihah ini dapat menamengi (menjaga) orang-orang yang membacanya dari berbagai bahaya dan penyakit, Telah bersabda Rasulullah saw: siapa yang membaca al-Fatihah dan ayat kursi dirumahnya, tidak dapat menimpa kepadanya penyakit 'ain dari manusia atau jin dihari itu. Diriwayatkan oleh AD-DAILAMY dari Imran bin Husain ra.

8- AL-KANZU
Artinya: perbendaharaan, atau tempat yang penuh dengan barang-barang berharga, nama ini diambil dari hadis: Bersabda Rasulullah saw: Allah berfirman bahwa al-Fatihah adalah suatu perbendaharaan dari perbendaharaan-perbendaharaan Arasy-Ku.

9- AL-KAFIAH
Artinya: Memadai, karena al-Fatihah ini mencakup semua ayat-ayat dalam al-Quran, dan ayat-ayat lain tidak mencakup akan isi al-Fatihah ini.
Dinamai al-Kafiah berdasarkan sebuah hadis mursal: Bersabda Rasulullah saw: Ummul Quran dapat jadi ganti lainnya, tetapi lainnya tidak dapat menjadi gantinya.

10- AL-ASAS
Artinya: sendi atau dasar, dinamakan dengan nama ini oleh Sufyan bin Uyainah, karena dia dianggapnya sebagai dasar dari al-Quran dan ayat BISMILLAHIR-RAHMAANIR-RAHIIM dianggapnya sebagai dasar dari al-Fatihah. (Bersambung)


























Sabtu, 20 Agustus 2011

Nasihat Berharga Bag 5

1- "Orang pemurah itutidak akan mendurhakai Allah,dan tidaklah pengaruh akhirat akan dikalahkan oleh pengaruh dunia bagi orang yang bijaksana."

2- "Siapa yang menjadikan taqwa sebagai modal utamanya, tentu lidahnya tidak akan bercerita tentang jumlah keuntungan agamanya, dan barang siapayang menjadikan dunia sebagai modal utamanya, tentu lidahnya tidak akan tidak akan bercerita tentang kerugian agamanya."


Barang siapa yang menjaga ketaqwaannya dengan kesiapan menjalankan semua perintah Allah dan kesanggupan menjauhi larangan-Nya, artinya semua tingkah lakunya selalu sejalan dengan ajaran Syara', maka ia akan memperoleh pahala yang tiada bandingnya, sebaliknya orang yang berani melakukan pelanggaran pelanggaran agama, maka baginya celaan/siksa yang tiada terhingga beratnya sehingga lidah sulit menggambarkan sejauh mana beratnya siksaan itu.

Senin, 04 Juli 2011

Nasihat Berharga Bag 4

1- "Menyusahkan diri semata mata karena dunia adalah kegelapan hati, dan menyusahkan diri semata-mata karena akhirat adalah penerang dalam hati".

Kandungan statemen di atas bahwa berduka citadalam hal-hal yang bersifat keduniaan akan menjadikan kegelapan hati seseorang, sedangkan berduka cita dalam hal-hal yang berhubungan dengan akhirat, Hati akan menjadi terang.

YA ALLAH, kami mohon, janganlah Engkau menjadikan penghidupan kami di dunia ini menjadi tujuan yang utama, tetapi jadikanlah itu sebagai jembatan menuju akhirat,

2- "Barangsiapa yang menuntut ilmu sama halnya ia mencari syurga. dan barang siapa yang berbuat maksiat/dosa sama halnya ia mencari neraka".

Seseorang yang bersusah payah menuntut ilmu manfaatyang wajib di ketahui oleh orang-orang yang berakal, maka sesungguhnya ia mencari amal untuk surga dengan ridho ALLAH Swt. dan barang siapa yang selalu berbuat dosa, maka sama halnya mencari-cari pintu neraka dan berusaha memperoleh murka ALLAH Swt.

Sabtu, 30 April 2011

Iblis Musuh Manusia

Iblis adalah musuh manusia, sementara manusia adalah sasaran iblis. Oleh karena itu, manusia hendaklah senantiasa waspada sebab iblis senantiasa melihat tepat pada sasarannya. Sabda Rasulullah S.A.W kepada Mu'adz, "Wahai Mu'adz, apabila di dalam amal perbuatanmu itu ada kekurangan :

1 Jagalah lisanmu supaya tidak terjatuh di dalam ghibah terhadap saudaramu/muslimin.

2 Bacalah Al-Qur'an

3 Tanggunglah dosamu sendiri untukmu dan jangan engkau tanggungkan dosamu kepada orang lain.

4 Jangan engkau mensucikan dirimu dengan mencela orang lain.

5 Jangan engkau tinggikan dirimu sendiri di atas mereka.

6 Jangan engkau masukkan amal perbuatan dunia ke dalam amal perbuatan akhirat.

7 Jangan engkau menyombongkan diri pada kedudukanmu supaya orang takut kepada perangaimu yang tidak baik.

8 Jangan engkau membisikkan sesuatu sedang dekatmu ada orang lain.

9 Jangan engkau merasa tinggi dan mulia daripada orang lain.

10 Jangan engkau sakitkan hati orang dengan ucapan-ucapanmu.

Rabu, 30 Maret 2011

Keutamaan Doa

1. Do'a adalah otaknya (sumsum / inti nya) ibadah. (HR. Tirmidzi)

2. Do'a adalah senjata seorang mukmin dan tiang (pilar) agama serta cahaya langit dan bumi. (HR. Abu Ya'la)

3. Akan muncul dalam umat ini suatu kaum yang melampaui batas kewajaran dalam berthaharah dan berdoa. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Penjelasan:
Yakni berdoa atau mohon kepada Allah untuk hal-hal yang tidak mungkin dikabulkan karena berlebih-lebihan atau untuk sesuatu yang tidak halal (haram).

4. Do'a seorang muslim untuk kawannya yang tidak hadir dikabulkan Allah. (HR. Ahmad)

5. Jangan mendo'akan keburukan (mengutuk) dirimu atau anak-anakmu atau pelayan-pelayanmu (karyawan-karyawanmu) atau harta-bendamu, (karena khawatir) saat itu cocok dikabulkan segala permohonan dan terkabul pula do'amu. (Ibnu Khuzaimah)

6. Rasulullah Saw ditanya, "Pada waktu apa do'a (manusia) lebih didengar (oleh Allah)?" Lalu Rasulullah Saw menjawab, "Pada tengah malam dan pada akhir tiap shalat fardhu (sebelum salam)." (Mashabih Assunnah)

7. Do'a yang diucapkan antara azan dan iqomat tidak ditolak (oleh Allah). (HR. Ahmad)

8. Bermohonlah kepada Robbmu di saat kamu senang (bahagia). Sesungguhnya Allah berfirman (hadits Qudsi): "Barangsiapa berdo'a (memohon) kepada-Ku di waktu dia senang (bahagia) maka Aku akan mengabulkan do'anya di waktu dia dalam kesulitan, dan barangsiapa memohon maka Aku kabulkan dan barangsiapa rendah diri kepada-Ku maka aku angkat derajatnya, dan barangsiapa mohon kepada-Ku dengan rendah diri maka Aku merahmatinya dan barangsiapa mohon pengampunanKu maka Aku ampuni dosa-dosanya." (Ar-Rabii')

9. Ada tiga orang yang tidak ditolak do'a mereka: (1) Orang yang berpuasa sampai dia berbuka; (2) Seorang penguasa yang adil; (3) Dan do'a orang yang dizalimi (teraniaya). Do'a mereka diangkat oleh Allah ke atas awan dan dibukakan baginya pintu langit dan Allah bertitah, "Demi keperkasaanKu, Aku akan memenangkanmu (menolongmu) meskipun tidak segera." (HR. Tirmidzi)

10. Barangsiapa tidak (pernah) berdo'a kepada Allah maka Allah murka kepadanya. (HR. Ahmad)

11. Apabila kamu berdo'a janganlah berkata, "Ya Allah, ampunilah aku kalau Engkau menghendaki, rahmatilah aku kalau Engkau menghendaki dan berilah aku rezeki kalau Engkau menghendaki." Hendaklah kamu bermohon dengan kesungguhan hati sebab Allah berbuat segala apa yang dikehendakiNya dan tidak ada paksaan terhadap-Nya. (HR. Bukhari dan Muslim)

12. Hati manusia adalah kandungan rahasia dan sebagian lebih mampu merahasiakan dari yang lain. Bila kamu mohon sesuatu kepada Allah 'Azza wajalla maka mohonlah dengan penuh keyakinan bahwa do'amu akan terkabul. Allah tidak akan mengabulkan do'a orang yang hatinya lalai dan lengah. (HR. Ahmad)

13. Apabila tersisa sepertiga dari malam hari Allah 'Azza wajalla turun ke langit bumi dan berfirman : "Adakah orang yang berdo'a kepadaKu akan Kukabulkan? Adakah orang yang beristighfar kepada-Ku akan Kuampuni dosa- dosanya? Adakah orang yang mohon rezeki kepada-Ku akan Kuberinya rezeki? Adakah orang yang mohon dibebaskan dari kesulitan yang dialaminya akan Kuatasi kesulitan-kesulitannya?" Yang demikian (berlaku) sampai tiba waktu fajar (subuh). (HR. Ahmad)

14. Tidak ada yang lebih utama (mulia) di sisi Allah daripada do'a. (HR. Ahmad)
15. Tiga macam do'a dikabulkan tanpa diragukan lagi, yaitu doa orang yang dizalimi, doa kedua orang tua, dan do'a seorang musafir (yang berpergian untuk maksud dan tujuan baik). (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

16. Sesungguhnya Allah Maha Pemalu dan Maha Murah hati. Allah malu bila ada hambaNya yang menengadahkan tangan (memohon kepada-Nya) lalu dibiarkannya kosong dan kecewa. (HR. Al Hakim)

17. Tiada seorang berdo'a kepada Allah dengan suatu do'a, kecuali dikabulkanNya, dan dia memperoleh salah satu dari tiga hal, yaitu dipercepat terkabulnya baginya di dunia, disimpan (ditabung) untuknya sampai di akhirat, atau diganti dengan mencegahnya dari musibah (bencana) yang serupa. (HR. Ath-Thabrani)

18. Barangsiapa mendo'akan keburukan terhadap orang yang menzaliminya maka dia telah memperoleh kemenangan. (HR. Tirmidzi dan Asysyihaab)

19. Ambillah kesempatan berdo'a ketika hati sedang lemah-lembut karena itu adalah rahmat. (HR.Ad-Dailami)

20. Ali Ra berkata, "Rasulullah Saw lewat ketika aku sedang mengucapkan do'a : "Ya Allah, rahmatilah aku". Lalu beliau menepuk pundakku seraya berkata, "Berdoalah juga untuk umum (kaum muslimin) dan jangan khusus untuk pribadi. Sesungguhnya perbedaan antara doa untuk umum dan khusus adalah seperti bedanya langit dan bumi." (HR. Ad-Dailami)

21. Berlindunglah kepada Allah dari kesengsaraan (akibat) bencana dan dari kesengsaraan hidup yang bersinambungan (silih berganti dan terus-menerus) dan suratan takdir yang buruk dan dari cemoohan lawan-lawan. (HR. Muslim)

22. Tidak ada manfaatnya bersikap siaga dan berhati-hati menghadapi takdir, akan tetapi do'a bermanfaat bagi apa yang diturunkan dan bagi apa yang tidak diturunkan. Oleh karena itu hendaklah kamu berdoa, wahai hamba-hamba Allah. (HR. Ath-Thabrani)

23. Barangsiapa ingin agar do'anya terkabul dan kesulitan-kesulitannya teratasi hendaklah dia menolong orang yang dalam kesempitan. (HR. Ahmad)


Doa adalah ibadah. Doa adalah senjata. Doa adalah benteng. Doa adalah obat. Doa adalah pintu segala kebaikan.

Allah memiliki dua sifat agung, yakni Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Tentang dua sifat itu, Abdullah Ibnul Mubarak berkata: "Ar-Rahman yaitu jika Dia diminta pasti memberi, sedang Ar-Rahim yaitu jika tidak dimintai maka Dia murka." (Fathul Bari 8/155).
Allah berfirman:

"Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah, bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepadaKu agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (Al-Baqarah: 186)


Sumber:
1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) - Dr. Muhammad Faiz Almath

Jumat, 14 Januari 2011

Bahagianya Penderitaan

Setiap kali kita mengalami peristiwa yang membuat kita bersedih atau menderita seringkali kita menutupinya atau menekan perasaan kita agar tidak terlihat lemah atau takut dianggap sebagai orang yang lemah iman sehingga bila ditanya 'apa kabar? kemudian kita menjawab, 'baik..!' Tanpa kita sadari kita menolak penderitaan.

Dilingkungan kita berada bila terjadi peristiwa duka cita, kehilangan orang yang kita cintai biasanya ada ungkapan, 'sudahlah, jangan menangis. Ikhlaskan saja kepergiannya.' atau ada juga yang mengatakan, 'kayak bukan orang beriman saja, begitu kok menangis.' Itulah sebabnya kita menekan perasaan kita, menekan emosi kita, tidak menunjukkan menangis di depan umum agar kita tidak dianggap sebagai orang yang lemah bahkan dianggap sebagai orang yang kufur.

Padahal bila kita memahami lebih dalam setiap duka cita dan penderitaan yang kita alami sesungguhnya banyak manfaatnya dalam hidup kita. Penderitaan dan duka cita yang sering kita alami sesungguhnya bukan kelemahan melainkan sebuah kekuatan yang ada di dalam diri kita. Ada beberapa manfaat di dalam penderitaan yang kita rasakan sebagai kekuatan.

Pertama, setiap penderitaan mengandung hikmah. Pengalaman duka cita atau yang kita rasakan sebagai penderitaan justru mengajarkan kita pada limpahan kasih sayang Allah Subhanahu Wa ta'ala agar kita semakin dekat dan taat kepadaNya, dengan demikian limpahan kasih sayang Allah akan memenuhi hati kita dan hati kita memancarkan kasih sayangNya untuk semua orang yang disekeliling kita. Beliau shallallâhu 'alaihi wa sallam juga pernah bersabda:

"Sesungguhnya besarnya pahala tergantung dengan besarnya ujian. Sesungguhnya, apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya. Barang siapa yang rida dengan ujian itu maka ia akan mendapat keridaan-Nya. Barang siapa yang membencinya maka ia akan mendapatkan kebencian-Nya." (HR At-Tirmidzi no. 2396 dan Ibnu Mâjah no. 4031)


Kedua, penderitaan yang kita rasakan menjadikan kebahagiaan kita menjadi sempurna. Kebahagiaan sejati pada dasarnya adalah mengalami kegembiraan dan penderitaan secara seimbang. Hidup menjadi dinamis ketika semuanya datang silih berganti antara kebahagiaan dan penderitaan. Seperti saat kita setelah meminum kopi pahit, madu akan terasa lebih manis.

Ketiga, penderitaan membuat kita semakin peka terhadap penderitaan orang lain. Kita menjadi memiliki empati dan menghormati orang lain sebagai hamba Allah yang sama-sama dimuliakan. Kita tidak berani menghina, melecehkan, atau mencemooh orang lain karena kita merasakan betapa pahitnya sebuah penderitaan.

Keempat, ketika hati kita remuk redam, ingin menangis menangislah sesungguhnya apa yang kita rasakan sakitnya, dengan menangis merupakan salah satu cara untuk membersihkan hati kita dan juga menghapus dosa yang pernah kita lakukan. Menangislah kepada Allah agar diberikan kesabaran dalam menjalani hidup ini sebagaimana sabda Rasulullah :

"Ujian itu akan selalu menimpa seorang hamba sampai Allah membiarkannya berjalan di atas bumi dengan tidak memiliki dosa." (HR At-Tirmidzi no.2398 , An-Nasâ'i di As-Sunan Al-kubrâ no. 7482 dan Ibnu Mâjah no. 4523)

Dan Allah SWT berfirman:

"Apa yang disisimu akan lenyap dan apa yang disisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. an- Nahl : 96).

( FAFIRRU ILAALLAH )

Sabtu, 25 September 2010

Kewajiban Mendidik Anak

Banyak kita jumpai di kalangan orang tua yang salah dalam mendidik anak-anaknya atau salah dalam memprioritaskan pendidikan bagi anak-anaknya. Dalam Islam telah diajarkan tentang hal-hal yang harus diajarkan kepada anak-anak,

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

“Kamu sekalian adalah pemimpin, dan kamu sekalian bertanggungjawab atas orang yang dipimpinnya. Seorang Amir (Raja) adalah pemimpin, laki-laki pun pemimpin atas keluarganya, dan perempuan juga pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya, ingatlah bahwa kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu sekalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas kepemimpinannya.”(HR.
Bukhari, Muslim, Ahmad dari shabat Ibnu Umar)

Seorang suami harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menjadi suami yang shalih, dengan mengkaji ilmu-ilmu agama, memahaminya serta melaksanakan dan mengamalkan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya,
serta menjauhkan diri dari setiap yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Kemudian dia mengajak dan membimbing sang isteri untuk berbuat demikian juga, sehingga anak-anaknya akan meneladani kedua orang tuanya, karena tabi’at anak memang cenderung untuk meniru apa-apa yang ada di sekitarnya.

1. Mendidik anak dengan cara-cara yang baik dan sabar, agar mereka mengenal dan mencintai Allah, yang menciptakannya dan seluruh alam semesta, mengenal dan mencintai Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, yang pada diri beliau terdapat suri tauladan yang mulia, serta agar mereka mengenal dan memahami Islam untuk diamalkan.

2. Pada usia dini (sekitar 2-3 tahun), kita ajarkan kepada mereka kalimat-kalimat yang baik serta bacaan Al Qur’an, sebagaimana yang dicontohkan oleh para sahabat dan generasi tabi’in dan tabi’ut tabi’in, sehingga banyak dari mereka yang sudah hafal Al Qur’an pada usia sangat belia.

3. Perhatian terhadap shalat juga harus menjadi prioritas utama bagi orang tua kepada
anaknya.

4. Perhatian orang tua terhadap anaknya juga dalam hal akhlaqnya, dan yang harus
menjadi penekanan utama adalah akhlaq (berbakti) kepada orang tua.

5. Juga perlu diperhatikan teman pergaulan anaknya, karena sangat bisa jadi pengaruh
jelek temannya akan berimbas pada perilaku dan akhlaq anaknya.

6. Disamping ikhtiar yang dilakukan untuk menjadikan isterinya menjadi isteri yang shalihah, hendaknya sang suami juga memanjatkan do’a kepada Allah pada waktu- waktu yang mustajab, seperti sepertiga malam terakhir, agar keluarganya dijadikan keluarga yang shalih, dan rumah tangganya diberikan sakinah, mawaddah wa rahmah, seperti do’a yang tercantum dalam Al Qur’an:

“Dan orang-orang yang berdo’a:’Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami, keturunan-keturunan kami sebagai penyenang hati kami dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”(QS. Al Furqan:74)

Paling tidak, seorang suami hendaknya bisa menjadi teladan dalam keluarganya, dihormati oleh sang isteri dan anak-anaknya, kemudian mereka menjadi hamba- hamba Allah yang shalih dan shalihah, bertakwa kepada Allah.
Inilah kiat-kiat yang hendaknya semua orang muslim dan muslimah lakukan untuk
mewujudkan keluarga sakinah.

Kamis, 26 Agustus 2010

Keistimewaan bulan Ramadhan

SEANDAINYA ENGKAU MENGETAHUI KEISTIMEWAAN BULAN RAMADHAN

1. Di bulan yang sangat berharga dan mahal ini, sudahkah kita mengisinya dengan ibadah dan amalan-amalan yang baik? Seandainya kita tahu sabda Rasulullah SAW:

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِيْ رَمَضَانَ لَتَمَنَّى أَنْ تَكُوْنَ الشُّهُوْرُ كُلَّهَا رَمَضَانَ

“ Seandainya manusia mengetahui kebaikan dan keistimewaan yang ada di bulan Ramadhan, niscaya mereka menginginkan seluruh bulan yang ada menjadi bulan Ramadhan .”

Tapi pada kenyataannya, kita tidak mahutahu dengan mahalnya bulan Ramadhan, malah kita sering mengeluh dan merasa beban dalam menjalaninya.

2. Sudah berapa kalikah kita khatam membaca Al-Qur'an di bulan Ramadhan ini? Seandainya kita tahu sabda Rasulullah SAW:
مَ .نْ تَلاَ فِيْهِ آيَةً مِنَ الْقُرْآنِ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ خَتَمَ اْلقُرْآنِ فِيْ غَيْرِهِ مِنَ الشُّهُوْرِ
“Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatamkan Al-Quran pada bulan-bulan yang lain. “

Tapi pada kenyataannya, kita sering lupa atau mungkin melupakannya. Kita merasa sibuk. Kita merasa tidak sempat. Kita tidak berusaha meluangkan waktu untuk membaca kalam Tuhan yang mulila.

3. Sudahkah kita mengisi malam-malam Ramadhan dengan tarawih, tahajjud, hajat, istikharah, taubat, witir dan amalan-amalan sunah lainnya? Seandainya kita tahu sabda Rasulullah SAW:
شَهْرٌ هُوَ عِنْدَ اللهِ أَفْضَلُ الشُّهُوْرِ، وَأَيَّامُهُ أَفْضَلُ اْلأَيَّامِ، وَلَيَالِيْهِ أَفْضَلُ اللَّيَالِي، وَسَاعَاتُهُ أَفْضَلُ السَّاعَاتِ
“Dia adalah b ulan yang paling mulia disisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama.”
Tapi pada kenyataannya kita sering lupa atau mungkin melupakannya, sehingga kita nyenyak dalam tidur panjang di malam hari.

4. Sudahkah kita memanfaatkan sepertiga malam yang akhir untuk mohon ampun dan beribadah kepada Allah SWT. Seandainya kita tahu, sepertiga malam adalah saat yang paling utama di sisi Allah untuk meminta dan bertaubat. Karena pada detik-detik itu Allah SWT turun ke langit dunia, seraya memanggil-manggil hamba-Nya:
هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَسْتَغْفِرَ لَهُ هَلْ مِنْ تَائِبٍ فَأَتُوْبَ عَلَيْهِ هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَأُعْطِيْهِ حَتَّى يَنْفَجِرَ الْفَجْرُ.


“Adakah di antara kalian yang mohon ampun, pasti aku ampuni. Adakah yang bertaubat, pasti aku terima taubatnya. Adakah yang meminta, pasti aku kabulkan permintaannya, sampai datang waktu subuh.”

Allah SWT juga berfirman:

وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ (الذاريات: 18)

“Dan di waktu sahur (yaitu akhir malam) mereka selalu memohon ampunan.”


Tapi pada kenyataannya kita sering lupa atau malah melupakannya. Sehingga sehabis makan sahur, yaitu sekitar jam empat atau jam seterngah empat dini hari, kita malah menyibukkan diri dengan menonton televisi sambil menunggu adzan shubuh atau mungkin melanjutkan tidur lagi.

5. Sudahkah kita memiliki tekad yang kuat untuk mendapatkan malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan? Seandainya kita tahu sabda Rasulullah SAW:

فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ (رواه النسائى وابن ماجه وأحمد)


“Di dalam Ramadhan ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang terhalang dari malam itu maka dia telah terhalang dari mendapatkan kebaikan.”


Tapi pada kenyataannya kita masih bermalas-malasan untuk menghidupkan malam ramadhan dengan ibadah dan qiyamullail.


6. Sudahkah kita menginfakkan harta kita kepada para fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan? Seandainya kita tahu sabda Rasulullah SAW:


مَنْ أَكْرَمَ فِيْهِ يَتِيْمًا أَكْرَمَهُ اللهُ يَوْمَ يَلْقَاهُ


“Barang siapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. ”
Rasulullah SAW juga telah bersabda:
لَا يَنْقُصُ مَالٌ مِنْ صَدَقَةٍ
“Harta yang disedekahkan tidak akan berkurang.”
7. Sudahkah jiwa sosial kita terpanggil untuk juga peduli kepada saudara-saudara kita sesama muslim yang berpuasa. Seandainya kita tahu sabda Rasulullah SAW:
مَنْ فَطَّرَ مِنْكُمْ صَائِماً مُؤْمِناً فِيْ هَذَا الشَّهْرِ كَانَ لَهُ بِذَلِكَ عِنْدَ اللهِ عِتْقُ رَقَبَةٍ، وَمَغْفِرَةٌ لِمَا مَضَى مِنْ ذُنُوْبِهِ . فَقِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَلَيْسَ كُلُّنَا يَقْدِرُ عَلَى ذَلِكَ؟ فَقَالَ (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَسَلَّمَ) : اِتَّقُوْا اللهَ وَلَوْ بِشُرْبَةٍ مِنْ مَاءٍ، وَاتَّقُوْا النَّارَ وَلَوْ بَشَقِّ تَمْرَةٍ.


"Barang siapa di antara kalian memberi makanan untuk berbuka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu. Sahabat-sahabat lain bertanya: "Ya Rasulullah! Tidak semua kami mampu berbuat demikian." Rasulullah meneruskan: "Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air."


8. Sudahkah kita turut meringankan beban orang lain di bulan ini. Seandainya kita tahu sabda Rasulullah SAW:
مَنْ خَفَّفَ فِيْهِ عَمَّا مَلَكَتْ يَمِيْنُهُ خَفَّفَ اللهُ عَلَيْهِ حِسَابَهُ


“Siapa yang meringankan pekerjaan para pegawai atau pembantu nya di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat.”

9. Sudahkah kita berusaha keras untuk beribadah dan beramal sholeh di bulan ini? Seandainya kita tahu sabda Rasulullah SAW:


مَنْ تَقَرَّبَ فِيْهِ بِخَصْلَةٍ مِنَ الْخَيْرِ كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ، وَمَنْ أَدَّى فِيْهِ فَرِيْضَةً كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِيْنَ فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ.
“Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu kebajikan di bulan ini, seperti orang yang menunaikan ibadah fardhu di bulan lain. Barangsiapa melakukan shalat fardu di bulan ini, seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain.”


10. Sudahkah kita banyak bershalawat kepada Rasulullah SAW di bulan ini? Seandainya kita tahu sabda Rasulullah SAW:


مَنْ أَكْثَرَ فِيْهِ مِنَ الصَّلاَةِ عَلَيَّ، ثَقَّلَ اللهُ مِيْزَانَهُ يَوْمَ تَخُفُّ اْلمَوَازِيْنُ



“Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan.”


Dan terakhir saya sampaikan, sudahkah kita sadar betul dengan harga dan nilai bulan suci Ramadhan. Dengan segala keutamaan dan keistimewaan bulan ini. Bulan yang penuh dengan rahmat, sarat dengan ampunan, dan bulan pembebasan dari api neraka. Sehingga kita tidak termasuk ke dalam sabda Rasulullah SAW:
رَغْمَ أَنْفِ امْرِئٍ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ


“Celakalah orang yang telah melewati bulan Ramadhan, tapi dosanya tidak diampuni.”
Dan bagi yang beruntung Allah SWT menjanjikan melalui lisan Rasul-Nya:


إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ. (رواه البخاري ومسلم)


“Sesungguhnya di surga itu ada sebuah pintu yang disebut “Rayyan”. Akan masuk dari pintu ini di hari kiamat semua orang yang puasa dan tidak yang lain. Dikatakan saat itu: “Mana orang-orang yang berpuasa?” Maka orang-orang yang berpuasa pun masuk, dan tidak bagi yang lain. Jika mereka telah masuk, pintu akan ditutup dan tidak akan masuk ke dalamnya seorangpun” . (HR Bukhari-Muslim).

Minggu, 01 Agustus 2010

Empat Kaidah Iyyaaka Na'budu

Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan." (Al-Fatihah: 5).
Sebagai muslim tentunya ayat di atas tidak asing bagi kita. Minimal tujuh belas kali kita ulang dalam salat fardu lima waktu. Namun, pernahkah kita bertanya pada diri sendiri, sejauh mana kita dapat menyelami makna surat Al-Fatihah tersebut? Kalau belum, mari sejenak kita menyelami empat kaidah iyyaaka na'budu yang dikemukan oleh Ibnul Qayyim sebagai berikut.
Iyyaaka na'budu tegak di atas empat kaidah: mewujudkan apa yang dicintai dan diridai Allah dan Rasul-Nya, berupa:
1. perkataan hati,
2. perkataan lisan,
3. amalan hati,
4. amalan jawarih (anggota tubuh).
Ubudiyyah merupakan sebutan yang menyeluruh untuk empat tingkatan ini. Orang yang melaksanakan iyyaaka na'budu dengan sebenar-benarnya ialah yang melaksanakan empat tingkatan ini.
Perkataan hati ialah meyakini apa yang disampaikan Allah tentang diri-Nya, asma, sifat, dan perbuatan-Nya, tentang malaikat, dan perjumpaan dengan-Nya, sebagaimana yang disampaikan para rasul-Nya.
Perkataan lisan ialah berupa pernyataan darinya tentang hal itu, seruan kepada Allah (dakwah), menjelaskan kebatilan bidah, mengingat Allah dan menyampaikan perintah-perintah-Nya.
Amal-amal hati adalah seperti cinta kepada Allah, tawakal, bergantung kepada-Nya, takut dan berharap kepada-Nya, memurnikan agama dengan melaksanakan agama-Nya sesuai ajaran Rasul-Nya, sabar dalam melaksanakan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-

larangan-Nya, rida kepada-Nya, menolong karena-Nya dan bermusuhan karena-Nya pula, tunduk dan patuh kepada-Nya, thuma'ninah kepada-Nya, dan lain sebagainya yang berupa amalan hati. Kefarduan amalan hati ini lebih dari kefarduan amalan anggota tubuh, dan yang sunahnya lebih disukai oleh Allah daripada sunah-sunah anggota tubuh. Adapun amal-amal jawarih adalah seperti salat, puasa, jihad, mengayunkan kaki menuju salat jamaah dan salat Jumat, membantu orang lain, berbuat kebajikan kepada makhluk, dan sebagainya.
Iyyaaka na'budu mengikuti hukum empat kaidah dan ikrar kepadanya. Adapun iyyaaka nasta'iin merupakan tuntutan meminta pertolongan atas hokum-hukum itu serta taufik-Nya. Sedangkan ihdinaa ash-shiraath al-mustaqiim mencakup pengakuan terhadap dua perkara ini secara detail, ilham untuk melaksanakannya dan meniti jalan-jalan orang-orang yang berjalan kepada Allah dengan dua perkara itu.
Semua rasul hanya menyeru kepada iyyaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin. Mereka semua menyeru kepada tauhidullah (mengesakan Allah) dan penyembahan hanya kepada-Nya, semenjak rasul pertama hingga terakhir.
Demikianlah ulasan singkat ini untuk dapat menjadi bahan renungan bagi kita. Wallahu a'lam.
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Rabu, 21 Juli 2010

Motifator Amal Sholeh

Segala puji bagi Allah, Sholawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasululloh sollallohu ‘alaihi wa sallam, wa ba’du
Sesungguhnya pintu-pintu pahala banyak sekali, amalan kebaikan adalah agung, Nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam telah bersabda dalam meriwayatkan firman Robbnya Azza Wa jalla

Sesungguhnya Alloh telah menetapkan kebaikan dan keburukan, kemudian menerangkan hal itu, maka barang siapa berkehendak melakukan suatu kebaikan kemudian tidak melakukannya Alloh mencatatnya baginya di sisiNya kebaikan secara sempurna ..
Barang siapa yang menunjukkan suatu kebaikan dan mengarahkan kepadanya baginya pahala yang besar, Rasululloh sollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :


Dari Abu Hurairah ra bahwasanya Rasulullah sollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Barangsiapa menyeru kepada hidayah (petunjuk) maka ia mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang mengerjakannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan maka ia mendapatkan dosa sebagaimana dosa yang mengerjakannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun” .

diantara pintu-pintu kebaikan adalah yang disebutkan berikut ini :

1-Wudzu dan sholat dua roka’at setelahnya :

Nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : barang siapa berwudhu seperti wudhu saya ini kemudian sholat dua rokaat, dan ia tidak melamun dalam sholatnya, pastilah Alloh mengampuni dosanya yang telah lalu dari .

2- Memelihara sholat sunnah rowatib dua belas roka’at :
Nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Barang siapa yang rutin melakukan dua belas roka’at pada siang dan malam hari masuklah dia ke surga: empat roka’at sebelum dzuhur, dua roka’at setelahnya, dua roka’at setelah maghrib, dua roka’at setelah ‘Isya’ dua roka’at sebelum subuh

3- Berjalan ke sholat jama’ah.
Nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Barang siapa berjalan ke sholat wajib berjamaah maka ia seperti mengerjakan haji, dan barang siapa berjalan menuju sholat sunnah maka seperti melakukan umroh.

4- Sholat subuh.
Nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Barang siapa sholat subuh dia berada dalam jaminan Alloh, maka janganlah kalian dituntut oleh Alloh dengan sesuatu dalam jaminanNya, karena sesungguhnya orang yang dituntut oleh Alloh dalam jaminanNya pasti ditangkapNya kemudian Alloh sungkurkan wajahnya ke dalam api neraka .
Nabisollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Barang siapa berwudhu untuk sholat, dia sempurnakan wudhunya, kemudian berjalan ke sholat wajib dan dia lakukan bersama jamaah, Alloh mengampuni dosa-dosanya.

6-menjaga dalam mendapatkan takbirotul ihrom imam yang pertama.

Barang siapa sholat empat puluh hari di dalam jama’ah mendapatkan takbir pertama, ditulis baginya dua kebebasan, kebebasan dari neraka dan kebebasan dari kemunafikan.

7- mensholati janazah dan mengantarkan ke kuburan.
Nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Barang siapa mengikuti jenazah seorang muslim dengan iman dan mengharapkan pahala Alloh , dan bersamanya sehingga mensholatinya hingga selesai dari penguburannya maka dia pulang dengan pahala dua qiroth setiap satu qiroth seperti gunung Uhud, dan barang siapa mensholatinya kemudian pulang sebelum dikebumikan maka dia pulang dengan satu qiroth.

8- Haji Mabrur.
Nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :


Barang siapa haji ke Rumah ini [Baitulloh] tidak berbuat rofats[sesuatu yang mengarah kepada sexsual] serta tidak berbuat fasiq dia pulang seperti dilahirkan ibunya[tanpa dosa]

9-Thowaf dan sholat dua roka’at setelahnya .
Nabisollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Barang siapa yang thowaf di rumah Alloh [Ka’bah] tujuh kali, serta sholat dua roka’at adalah seperti memerdekakan budak.

10- kesungguhan dalam memohon untuk mati sayhid.

Barang siapa memohon mati syahid dengan kesungguhan ia diberikan syahadat walaupun tidak terbunuh.

11-memandikan mayit dan menutup aib yang dilihatnya.
Nabi bersabda :

Barang siapa yang memandikan mayit serta menutupi aibnya, Alloh menutupi dosa-dosanya, dan barang siapa yang mengkafani seorang muslim, Alloh memberikannya pakaian sutra.

12-memintakan ampun buat kaum mu’minin.
Nabi bersabda :

Siapa yang memintakan ampunan bagi kaum mukmin laki dan wanita , Alloh mencatat buatnya dengan setiap mukmin laki dan wanita satu kebaikan.

13- membaca AlQur’an
Nabisollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Siapa yang membaca satu huruf dari kitabulloh maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dengan sepuluh lipat, saya tidak mengatakan alif laam miim satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf.

14-tasbih.
Nabisollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Siapa yang mengatakan subhaanalloh wa bihamdihi satu hari seratus kali, dihapus dosa-dosanya walaupun seperti buih dilautan.
Siapa yang mengucapkan subhaanallohil ‘adzim wa bi hamdihi ditamkan baginya pohon kurma di surga.

15-sholawat kepada Rasul sollallohu ‘alaihi wa sallam.
Nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Siapa yang bersholawat kepadaku sepuluh kali ketika pagi dan sepuluh kali ketika sore hari akan mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat.

Siapa yang bersholawat kepadaku Alloh bersholawat kepadanya sepuluh kali .

16-membangun masjid .
nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Siapa yang membangun masjid untuk Alloh, Aloh membangun baginya rumah disorga yang lebih luas darinya .

17-membaca tahlil :
Nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Siapa yang mengucapkan satu hari sebanyak seratus kali :

Tidak ada Ilaah yang berhak disembah kecuali Alloh saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, baginya saja segala kerajaan dan bagiNya saja segala pujian dan Dia atas segala sesuatu berkuasa.
Adalah untuknya pahala sebanding memerdekakan sepuluh budak, ditulis untuknya seratus kebaikan dihapus seratus keburukan dan baginya benteng dari setan pada harinya itu sampai malam hari dan tidak ada seorangpun yang datang dengan kebaikan yang labih baik dari kebaikan yang ia datang dengannya kecuali orang yang mengucapkan lebih darinya.

Siapa yang mengucapkan:

Tidak ada Ilaah yang berhak disembah kecuali Alloh saja, tidak ada sekutu bagi-Nya baginya saja segala kerajaan dan bagiNya saja segala pujian dan Dia atas segala sesuatu berkuasa.[sepuluh kali]
Adalah seperti memerdekakan budak dari anak Nabi Isma’il.

18- mengahafal sepuluh ayat dari surat Al Kahfi :
Nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Siapa yang yang hafal sepuluh ayat pertama dari surrat Kahfi terjaga dari dajjal.

19-Do’a ketiga melihat orang yang dicoba .
Nabi bersabda :

Siapa yang melihat orang yang dicoba ia berkata : segala puji bagi Alloh yang menyelamatkan saya dari apa yang kamu dicoba dengannya serta melebihkan saya kelebihan yang banyak atas kebanyakan yang Dia ciptakan, tidak akan terkena balak tersebut.
Catatan : hendaklah membacanya dengan pelan supaya tidak terdengar oleh orang yang dicoba agar tidak menyakitinya.

20-mencintai orang-orang Anshor.
Nabisollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Orang-orang Anshor tidak mencintai mereka kecuali orang mukmin, tidak membenci mereka kecuali munafiq, maka barang siapa yang mencintai mereka Alloh mencintainya, barang siapa yang membenci mereka Alloh membenci mereka .

21- memberikan kelonggarn waktu orang yang kesulitan .
Nabi bersabda :

Siapa yang memberikan kelonggaran waktu kepada orang yang kesulitan atau membebaskannya Alloh memberikan naungan kepadanya pada hari kiamat di bawah anungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naunganNya.

22- menutupi aib saudara muslim.
Nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Siapa yang menutupi [aib] seorang muslim Alloh menutup [aibnya] hari kiamat.

23-mendidik anak perempuan .

Siapa yang memiliki tiga anak, sabar dalam mendidik mereka, memberikan makan dan minum mereka dan pakaian mereka dengan hasil usahanya, adalah mereka pada hari kiamat sebagai dinding penghalang untuknya dari api neraka .

24- membela nama baik saudara muslim .
Siapa yang membela kehormatan saudaranya dalam kondisi tidak bertemu, adalah wajib bagi Alloh untuk memerdekakannya dari api neraka.


25-menahan marah .
Nabisollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Siapa yang menahan marahnya sementara dia mampu untuk melampiaskan Alloh akan memanggilnya di hadapan seluruh mahkluq pada hari kiamat sehingga di persilahkan memilih bidadari mana yang ia kehendaki.

26- tawadhu’
Nabisollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Siapa yang merendahkan diri karena Alloh, Alloh akan meninggikan derajatnya.

27-silaturrohim.

Siapa yang menhendaki untuk diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah menyambung persaudaraannya.

28- membunuh cecak dengan satu pukulan.
Nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Siapa yang membunuh cecak dalam satu pukulan dicatat buatnya seratus kebaikan, dalam pukulan kedua kurang dari itu, dalam pukulan ketiga kurang dari itu.

Sabtu, 17 Juli 2010

Penderitaan Bukanlah Kelemahan Melainkan Kekuatan

Setiap kali kita mengalami peristiwa yang membuat kita bersedih atau menderita seringkali kita menutupinya atau menekan perasaan kita agar tidak terlihat lemah atau takut dianggap sebagai orang yang lemah iman sehingga bila ditanya 'apa kabar? kemudian kita menjawab, 'baik..!' Tanpa kita sadari kita menolak penderitaan.

Dilingkungan kita berada bila terjadi peristiwa duka cita, kehilangan orang yang kita cintai biasanya ada ungkapan, 'sudahlah, jangan menangis. Ikhlaskan saja kepergiannya.' atau ada juga yang mengatakan, 'kayak bukan orang beriman saja, begitu kok menangis.' Itulah sebabnya kita menekan perasaan kita, menekan emosi kita, tidak menunjukkan menangis di depan umum agar kita tidak dianggap sebagai orang yang lemah bahkan dianggap sebagai orang yang kufur.

Padahal bila kita memahami lebih dalam setiap duka cita dan penderitaan yang kita alami sesungguhnya banyak manfaatnya dalam hidup kita. Penderitaan dan duka cita yang sering kita alami sesungguhnya bukan kelemahan melainkan sebuah kekuatan yang ada di dalam diri kita. Ada beberapa manfaat di dalam penderitaan yang kita rasakan sebagai kekuatan.

Pertama, Pengalaman duka cita atau yang kita rasakan sebagai menderitaan justru mengajarkan kita pada limpahan kasih sayang Allah Subhanahu Wa ta'ala agar kita semakin dekat dan taat kepadaNya, dengan demikian limpahan kasih sayang Allah akan memenuhi hati kita dan hati kita memancarkan kasih sayangNya untuk semua orang yang disekeliling kita.

Kedua, penderitaan yang kita rasakan menjadikan kebahagiaan kita menjadi sempurna. Kebahagiaan sejati pada dasarnya adalah mengalami kegembiraan dan penderitaan secara seimbang. Hidup menjadi dinamis ketika semuanya datang silih berganti antara kebahagiaan dan penderitaan.

Ketiga, penderitaan membuat kita semakin peka terhadap penderitaan orang lain. Kita menjadi memiliki empati dan menghormati orang lain sebagai hamba Allah yang sama-sama dimuliakan. Kita tidak berani menghina, melecehkan, atau mencemooh orang lain karena kita merasakan betapa pahitnya sebuah penderitaan.

Keempat, ketika hati kita remuk redam, ingin menangis menangislah sesungguhnya apa yang kita rasakan sakitnya, dengan menangis merupakan salah satu cara untuk membersihkan hati kita dan juga menghapus dosa yang pernah kita lakukan. Menangislah kepada Allah agar diberikan kesabaran dalam menjalani hidup ini sebagaimana Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

'Apa yang disisimu akan lenyap dan apa yang disisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. an- Nahl : 96).
cp note:pa ko

Selasa, 13 Juli 2010

Kembali kepada Allah SWT

Sesungguhnya umat yang jauh dari manhaj Alquran dan sunah adalah umat yang akan menuai kehancuran dan azab. Kita sebagai bangsa muslim, meskipun mendapat perlakuan zalim dari musuh-musuh Islam, masih saja banyak di antara kita yang berkecimpung dalam kesesatan dan enggan kembali kepada Allah Tabaraka wa Taala. Mereka ini adalah orang-orang yang ikut berpartisipasi dalam menzalimi pihak lain. Akibatnya, kerusakan tersebar di tengah kaum muslimin, pencurian merajalela, minum-minuman keras merebak, tempat-tempat bahaya menjadi sasaran, para wanita keluar dengan telanjang tanpa rasa malu dan perlindungan, dan zina pun marak. Padahal, Rasululah saw. telah bersabda yang artinya, "Apabila riba dan zina telah nampak dalam sebuah desa, mereka telah halal untuk mendapatkan azab Allah."

Apabila kita berkeinginan untuk merealisasikan prinsip ideal dalam sebuah masyarakat, tidak ada jalan lain kecuali kembali kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya. Wahai Rab kami, terimalah amalan kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dan terimalah taubat kami karena sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing. Apakah di sana ada kesempurnaan, sementara jiwa kita dipenuhi dengan rasa iri, kebencian, dan permusuhan? Apakah di sana ada kesempurnaan, sementara kita masih mabuk dalam luapan minuman keras? Apakah di sana ada kesempurnaan, sementara kita memakan daging sebagian kita dengan sebagian yang lain?

Bila kita ingin mengobati itu semua, merilah kita kembali kepada Allah Tabaraka wa Taala. Marilah kita lantunkan kalimat lailaaha Illallah muhammadar rasulullah. Marilah kita perbaiki hubungan kita dengan Allah. Marilah kita mendidik diri kita dan anak-anak kita dengan pendidikan Islam. Marilah kita tolong-menolong atas dasar kebaikan dan takwa dan jangan tolong menolong atas dasar dosa dan permusuhan.

Marilah kita mengambil pelajaran dan nasihat dari para sahabat besar yang telah dididik Rasulullah saw. Di antaranya adalah seorang sahabat wanita mulia, Sahlah binti Mulhan, yang ketika menikah maharnya adalah kalimat tauhid "laa ilaaha illallah". Sebuah kalimat yang mampu menggoncang gunung-gunung.

Nabi Musa a.s. berkata, "Ya Rab, ajarilah aku sesuatu yang dengannya aku berdoa kepada-Mu dan menyebut-MU." Allah Tabaraka wa Taala berfirman, "Katakanlah, laa ilaaha illallah." Musa berkata, "Wahai Rab, semua hamba-Mu mengatakannya." Maka, Allah yang telah meninggikan langit tanpa tiang berfirman, "Hai Musa, demi izah dan kebesaran-Ku, seandainya langit yang tujuh dan siapa yang ada di dalamnya dan bumi-bumi dan siapa yang ada di dalamnya diletakkan dalam sebuah telapak dan saya meletakkan laa ilaaha illallah dalam telapak yang lain, maka akan condonglah telapak yang terdapat kalimat lailaaha lllallah."

Sahabat mulia, Sahlah binti Mulhan, menikah dengan Abu Thalhah dan Allah menganugerakan kepada mereka seorang anak. Mereka memberi nama anak ini dengan Umair. Suatu hari anak tersebut sakit keras. Sebelum Abu Thalhah berangkat bekerja, ia mencium anak itu. Tidak berapa lama kemudian Allah Yang Maha Kuasa pun memanggilnya. Marilah kita melihat apa yang dilakukan Sayyidah Sahlah r.a. ketika kematian telah menjemput anaknya! Apakah ia merobek-robek pakaiannya, apakah ia menampar pipinya? Apakah ia menyeru dengan seruan jahiliyah? Tidak, namun yang ia katakan adalah innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun (sesungguhnya kita semuanya milik Allah, dan kita semua akan kembali kepadanya), tidak ada tempat lari dari pertemuan kepada Allah.

"Kuburan adalah pintu dan semua manusia akan memasukinya. Wahai umurku, setelah pintu niscaya terdapat rumah. Rumah itu adalah rumah kenikmatan jika aku berbuat dengan yang apa diridhai Allah, namun bila aku menyelisihinya, neraka adalah tempat tinggalnya. Keduanya adalah tempat kembali. Tidak ada manusia yang tinggal selain di kedua tempat tersebut, maka lihatlah dirimu, rumah manakah yang engkau pilih? Seorang hamba bila beramal dan memberikan pemberian, maka tidak ada baginya kecuali surga Firdaus, sementara Rab itu Maha Pengampun."

Sahlah kemudian memandikan jasad anaknya, mengafani, dan menyolatkannya, setelah itu mengkuburkannya. Lalu, pada malam harinya suaminya pulang dari bekerja. Ia lalu mempersiapkan dirinya dan makanan untuk suaminya. Suaminya pun menikmati makanan yang dihidangkannya, lalu ia bertanya, "Bagaimanakah keadaan Umair, wahai istriku?" Perkataan yang sungguh menakjubkan, namun jawaban yang diberikan Sahlah jauh lebih menakjubkan. "Bagaimana keadaaannya?" Maka bagaimanakah jawaban yang diberikan sahabat yang telah mengikat tangan Rasulullah saw. ini? Ia berkata, "Wahai Abu Thalhah, sesungguhnya Umair tengah menikmati malam harinya, ia tidak merasakah lelah, ia tengah tidur dengan tenang."

Manakala Rasulullah saw. berada dalam sakaratul maut ia membasuh wajahnya dengan air yang dingin. Beliau berkata, "Subhanallah (maha suci Allah) sesungguhnya kematian saat-saat sekarat. Ya Allah, mudahkanlah sakaratul maut untuk kami." Saat itu sayyidah Fathimah tengah menangis, "Alangkah sedihnya wahai ayahanda." Rasulullah saw. kemudian bersabda, "Wahai Fathimah, tidak ada kesedihan atas ayahmu setelah hari ini."

Bilal bin Rabah tatkala berada dalam sakaratul maut, istrinya berkata, "Alangkah sedihnya." Bilal kemudian membuka matanya dan berkata, "Katakanlah, 'Alangkah gembiranya saya akan berjumpa denga para kekasihku, muhammad dan para sahabatnya'."

Tatkala Ibrahim a.s. tengah tidur di atas kasur kematiannya, datanglah malaikat pencabut nyawa. Ibrahim lalu berkata kepadanya, "Engkau datang ataukah akan menyabut nyawa wahai malaikat maut?" Malaikat maut menjawab, "Saya datang untuk mencabut nyawamu wahai kekasih Ar-Rahman." Maka, berkatalah Ibrahim, "Wahai malaikat maut, apa pendapatmu tentang seorang kekasih yang mematikan kekasihnya?" Maka, Allah Tabaraka wa Taala mewahyukan jawaban kepada malaikat maut. Berkatalah malaikat maut, "Wahai kekasih Ar-Rahman, As-Salam (Allah) membacakan salam kepadamu dan berkata kepadamu, 'Apakah pendapatmu tentang seorang kekasih yang enggan bertemu dengan kekasihnya?' Allah berfirman yang artinya, 'Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya, Itulah yang kamu selalu daripadanya'." (Qaf: 19).

Marilah kita kembali kepada kisah Abu Thalhah, "Bagaimana keadaan Umair?" Sahlah lalu berkata kepadanya, "Ia tidur malam dengan tenang dan tidak merasakan lelah." Seandainya Sahlah adalah salah satu wanita yang hidup pada masa sekarang, maka dunia telah berbalik, atas menjadi bawah.

Akidah adalah dasar utama untuk mendidik jiwa. Akidah inilah yang mendidik jiwa merasakan pengawasan Allah SWT. Setelah itu mereka berdua tidur. Ketika Abu Thalhah hendak berangkat salat fajar ke masjid, ia bertanya kepada istrinya, "Di manakah Umair? Saya hendak menciumnya." Maka apakah jawaban yang diberikan Sahlah, apakah ia akan berdusta? Sungguh mereka tidak mengenal perkataan dusta dan bohong. Rasululalh telah mendidik mereka. Ia menjawab, "Wahai Abu Thalhah, sesungguhnya saya dalam kesedihan." Abu Thalhah bertanya, "Mengapa?" Ia menjawab, "Tetangga telah meminjamkan sesuatu kepdaku, tetapi ia kemudian mengambilnya kembali." Abu Talhah berkata, "Apakah engkau akan sedih bila mereka mengambil titipanya?" Maka berkatalah Sahlah, "Apakah engkau akan sedih wahai Abu Thalhah bila Allah mengambil titipan-Nya dari kita?"

Maka saat itu tidak terdengar dari lisan Abu Thalhah, melainkan kalimat innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiun. Ia kemudian pergi ke masjid untuk menunaikan salat fajar berjamaah bersama Rasulullah saw. Setalah salat usai, ia menceritakan ucapan istrinya kepada Rasulullah. Maka, nampaklah senyum keridaan dari kedua bibir beliau, atas apa yang telah diperbuat Sahlah r.a., lalu beliau mendoakan Abu Thalhah. Doa yang membuka pintu langit yang tinggi. "Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua wahai Aba Thalhah"

Seorang perawi hadis berkata, "Setelah itu saya menyaksikan Abu Thalhah memiliki 10 anak

Sabtu, 10 Juli 2010

Bahaya Sikap Tergesa-gesa dalam Mengafirkan Seorang Muslim

Pada hakikatnya mengafirkan seseorang adalah hak Allah SWT semata, sehingga tidak diperbolehkan mendahului ketentuan-Nya, kecuali dengan izin Allah SWT dan berdasarkan pengetahuan, atau berdasarkan nash-nash Alquran dan Sunnah Nabi saw serta hujjah (dalil) yang pasti dan tidak diragukan. Hal demikian karena, iman dan kafir terdapat dalam hati, dan tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang ada dalam hati seseorang, kecuali Allah SWT.

Tanda-tanda lahiriyah yang terdapat pada seseorang tidak secara meyakinkan dan pasti menunjukkan apa yang terdapat dalam hati, tetapi hanya bersifat dugaan. Sementara, Islam melarang mengikuti dugaan (prasangka) sebagaimana terdapat pada banyak nash Alquran dan Sunnah, dan dilarang pula hanya mencari -cari alasan atau pertanda atas suatu tuduhan, terutama dalam persoalan-persoalan akidah. Allah SWT berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain...." (Al-Hujurat: 12).

Oleh karena itu, Rasulullah saw memperingatkan Usamah bin Zaid yang membunuh seseorang yang telah mengucapkan 'Laa Ilaha Illallahu' (Tiada Tuhan selain Allah), sebagaimana pula Allah memperingatkan para sahabat yang hendak pergi berperang agar tidak membunuh seseorang yang memberi salam kepada mereka berdasarkan prasangka mereka bahwa ia mengucapkan salam tersebut hanya kemunafikan dan ketakutannya, maka Allah SWT berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan 'salam' kepadamu, 'kamu bukan seorang mukmin' (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu terdahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu,maka


telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (An-Nisaa': 94)
Dengan demikian, adalah suatu keharusan mengetahui ketentuan hukum tentang seorang muslim yang keluar dari Islam dan masuk dalam kekafiran. Seorang muslim tidak dapat mengafirkan seseorang, kecuali berdasarkan petunjuk yang jelas seperti matahari di siang hari. Adapun bahaya dari sikap mengafirkan seorang muslim tanpa petunjuk yang jelas dapat menimbulkan beberapa akibat buruk yang menimpanya, di antaranya:

1. Perlindungan terhadap darah dan hartanya menjadi hilang, sehingga tidak ada hukum qishash bagi pelakunya, tetapi hanya diasingkan.

2. Memisahkan dirinya dengan pasangan (istrinya) dan memutuskan sebab warisan antara dirinya dan pasangannya.

3. Kekuasaannya pada anak-anaknya menjadi hilang, karena tidak ada kepercayaan mereka kepadanya.

4. Kepemimpinannya atas kaum muslimin putus dan harus dimusuhi.

5. Terjadi pembunuhan atas dirinya.

6. Tidak dimandikan dan tidak pula dikafani, serta tidak dapat dikuburkan di komplek pemakaman kaum muslimin.
Dan, akibat-akibat lain yang berbahaya yang muncul akibat klaim pengafiran yang tergesa-gesa tanpa berdasarkan bukti yang jelas. Jika bukti-buktinya banyak dan jelas, maka hilanglah bahaya pengafiran tersebut. Sebagaimana dituntutnya bukti-bukti pengafiran dan tidak adanya halangan untuk memutuskannya, maka diwajibkan pula penelitian dan pembahasan yang mendalam sebelum dikeluarkannya hukum pengafiran tersebut, terutama terhadap orang-orang yang telah menyatakan keislaman mereka dengan mengucapkan syahadat 'Laa Ilaha Illallahu Muhammadur Rasuulullahi' (Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad utusan Allah).
Imam as-Syaukani ra mengatakan, "Memutuskan kekafiran seseorang haruslah dengan keterbukaan dan dengan ketenangan hati serta kedamaian jiwa, sehingga tidak ada keputusan yang diterima dari dugaan kemusyrikan, terutama jika tidak
mengetahui adanya penyimpangan dari jalan Islam. Juga tidak ada anggapan seseorang melakukan perbuatan kafir selama ia tidak keluar dari Islam dan menjadi kafir, dan tidak juga dapat ditentukan seseorang itu kafir hanya berdasarkan ucapannya yang menunjukkan ucapan seorang kafir, sedang ia tidak meyakini maknanya.
Maka, tidak setiap perbuatan atau perkataan yang menunjukkan kekafiran dapat menyebabkan pelakunya menjadi kafir, jika ia seorang muslim dan tidak mengetahui maksudnya. Akan tetapi, jika maksudnya sudah jelas dan hujjah (dalil) telah ditegakkan baginya dengan penjelasan bahwa perbuatan demikian dapat menjadikannya kafir, tetapi ia tetap melakukannya, maka ia adalah kafir. Jika kenyataan itu belum jelas, maka tidak diperbolehkan tergesa-gesa menuduhnya kafir.


Penjelasan di atas telah ditegaskan banyak nash yang melarang keras mengafirkan seorang muslim tanpa bukti yang jelas. Di antaranya sabda Rasulullh saw, "Orang yang mengatakan kepada saudaranya, 'Hai kafir', maka hal itu akan menyebabkan salah seorang di antara keduanya terbunuh." ( HR al-Bukhari). Sabda beliau yang lain, "Orang yang memanggil seseorang kafir, atau berkata, 'musuh Allah', sedangkan orang tersebut tidak demikian, maka ia telah sesat." (HR Muslim)
Ibnu Hajar berkata, "Hadis tersebut dimaksudkan untuk mencegah seorang muslim mengatakan demikian kepada saudaranya sesama muslim...." Disebutkan bahwa hadis ini menjelaskan seseorang yang mengafirkan saudaranya, kekurangan, dan dosanya dikembalikan kepadanya. Pengertian demikian ini dapat diterima. Disebutkan pula bahwa tindakan tersebut dikhawatirkan akan terus berlanjut pada kekafiran, seperti dikatakan bahwa perbuatan dosa adalah jalannya kekafiran, sehingga dikhawatirkan orang yang melakukannya akan mengalami suu'ul khatimah (meninggal dalam keadaan yang jelek).
Dari semua pendapat tersebut, saya menegaskan bahwa orang yang menyebut kafir saudaranya yang tidak diketahuinya kecuali keislamannya dan tidak ada keraguan dalam tuduhannya, maka ia adalah kafir. Ia menjadi kafir karena mengafirkan saudaranya. Jadi, pengertian hadis ini adalah bahwa
pengafiran tersebut kembali kepada orang yang mengafirkan saudaranya, dan pendapat yang kuat adalah pengafiran dan bukannya kekafiran, seakan-akan ia mengafirkan dirinya, karena ia mengafirkan seseorang yang seperti dirinya, dan siapa yang tidak mengafirkannya selain orang kafir yang tidak mempercayai kebenaran agama Islam.
Di dalam hadis-hadis seperti ini juga terdapat peringatan keras untuk tidak tergesa-gesa mengafirkan sesama muslim, karena tindakan demikian mengandung ancaman terhadap kehormatan seorang muslim yang telah tegas keislamannya berdasarkan keyakinan. Oleh karena itu, tidak dibolehkan menuduh seseorang kafir, kecuali setelah mendapatkan bukti yang pasti akan kekafirannya secara meyakinkan.
Berdasarkan penjelasan di atas, hadis-hadis demikian merupakan tameng bagi manusia untuk tidak melakukan tuduhan tanpa alasan kepada sesamanya. Tuduhan kafir kepada sesama muslim akan menyebabkannya terjerumus ke dalam perbuatan-perbuatan yang merupakan bagian dari kekafiran atau kemusyrikan ketika hukum diberlakukan baginya.

Senin, 05 Juli 2010

FADHILAH DOA AKASYAH

Doa Akasyah Dalam kitab Mujarabat ada menyatakan bahwa doa Akasah ini pada asalnya dibawa oleh Malaikat Jibril as.s dari arasy… dari sayyidina Abu Bakar A-Siddiq r.a telah berkata, pada suatu hari aku sedang duduk di hadapan Rasulullah SAW di dalam Masjid Madinah AL Munawwarah, tiba-tiba datang Malaikat Jibril as. Dengan membawa Doa Akasyah lalu diberikan kepada Rasulullah SAW seraya berkata.. Wahai Rasulullah, sesungguhnya apa yang aku bawa ini?

Doa Akasyah yang sejak dari Nabi Adam a.s. dan nabi-nabi lain belum pernah diberi kecuali kepada engkau. Kata Malaikat Jibril lagi, sesungguhnya aku melihat Doa Akasyah ini tergantung di bawah Arasy selama 90,000 tahun sebelum Allah menciptakan dunia seisinya. Fadhilahnya:

1- Dapat menghafal Al Quran: Hendaklah membaca doa ini sebelum membaca Al Quran dengan penuh ikhlas kepada Allah SWT, Sayyidina Abu Bakar As-Siddiq ra berkata, Rasulullah SAW pernah bersabda kepadaku,, Wahai Abu Bakar, janganlah kamu tinggal membaca doa Akasyah ini, sebab membaca doa ini bererti akan memperoleh kesentosaan dan anugerah dari Allah SWT, dapat menghafal Al Quran dan Kitab, Sayyidina Usman Ibnu Affan ra. Pernah berkata, Sesungguhnya aku dapat menghafal Al Quran dengan berkah doa Akasyah ini.

2- Memperolehi kekuatan luar biasa: Sayyidina Ali ibnu Abu Talib ra. Pernah berkata, Aku telah memiliki kekuatan dan keberanian yang laur biasa disebabkan berkahnya Doa Akasyah ini.

3- Diampuni Allah SWT segala Dosa.

4- Membaca dengan ikhlas hati benar2 kerana Allah secara istiqomah,Insya Allah diberi ampunan dan dihapuskan segala dosa.

5- Pada hari kiamat akan diberi Allah SWT pahala yang besar, Hasan Basri ra berkata, Sesungguhnya aku telah mendegar Rasulullah SAW bersabda; Bahawa seseorang itu tidak akan memperolehi pahala yang berlimpah-limpah seperti pahala orang yg membaca Doa Akasyah ini… Syeikh Sya’ban ra berkata, Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, Barang siapa membaca doa Akasyah ini, jika ia meninggal dunia, maka ia sentiasa mendapat anugerah dari Allah SWT banyak nya malaikat ikut menghantarkan jenazahnya kekubur, yang satu malaikat telah membawa nur.

6- Mendapat darajat yg tinggi didunia dan akhirat, DALam hidupnya sentiasa membaca doa tersebut, niscaya Allah SWT mengangkat derajatnya di dunia dan akhirat, Apabila bangkit dari kubur, wajahnya seperti bulan purnama…banyaknya malaikat berada disekeliling nya,yang semuanya membawa bendera dari cahaya terus menuju ke syurga bersama-sama orang yang membaca doa Akasyah.Orang yg berada di padang mahsyar merasa kagum dan tercengang/heran karena dihormati oleh para malaikat dan orang soleh. Wallahu ‘alam.

Terjemah doa akayah Buka copas:http://www.abdullahakmal.co.cc/2010/04/terjemah-doa-akasah.html

Minggu, 13 Juni 2010

Keutamaan Ayat Kursi

Ayat Kursi yang sangat istimewa dan mengandungi pemahaman tauhid pada ultimate level (tauhid al-wujud). Begitu istimewanya sehingga Sayidina Ali tidak pernah melewatkan malam tanpa membaca ayat Kursi,Apa lagi kita yang mempunyai banyak kelemahan, dosa-dosa dan pelbagai penyakit kalbu. Sudah tentulah kita harus lebih banyak membaca dan mengamalkan ayat kursi untuk membentengi diri kita dari pelbagai kejahatan jin mahupun manusia,

Dapat menjauhkan diri kita dari godaan setan, terutama jika dibaca sebelum tidur, Dimudahkan masuk ke dalam jannah bagi yang membacanya.

Dalam kisah lain diriwayatkan Ubay bin Ka’b radhiallahu ‘anhu, disebutkan bahwa si jin mengatakan:

مَنْ قَالَهَا حِينَ يُمْسِي أُجِيرَ مِنَّا حَتَّى يُصْبِحَ ، وَمَنْ قَالَهَا حِينَ يُصْبِحُ أُجِيرَ مِنَّا حَتَّى يُمْسِيَ

“Barangsiapa membacanya ketika sore, ia akan dilindungi dari kami sampai pagi. Barangsiapa membacanya ketika pagi, ia akan dilindungi sampai sore.” (HR. ath-Thabrani)

Dalam hadits yang lain, Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ دُبُرَ كُلِّ صَلاةٍ مَكْتُوبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ، إِلا الْمَوْتُ

“Barangsiapa membaca ayat kursi setelah setiap shalat wajib, tidak ada yang menghalanginya dari masuk surga selain kematian.” (HR. ath-Thabrani)

Ayat kursi dianjurkan juga untuk dibaca setiap ba’da sholat lima waktu. Jika seseorang melaziminya, maka ini menjadi garansi bagainya untuk dapat meraih jannah, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat berikut:


Dari Abu Umamah Al-Bahili Radhiyallahu anhu ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa membaca Ayat Kursi dipenghujung setiap sholat maka tidak ada yang menghalangi orang tersebut dengan surga kecuali maut.

Ayat kursi merupakan ayat Al Qur’an yang paling agung.
Hal ini sebagaimana hasil dialog yang dilakukan antara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan Abu Mundzir Radhiyallahu anhu :

“Dari Ubay bin Kaab ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hai Abu Mundzir, tahukah engkau ayat mana dari AL Qur’an yang menurutmu paling agung? Aku menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau bertanya lagi: ” Hai Abu Mundzir, tahukah engkau ayat mana dari Al Qur’an yang menurutmu paling agung? Aku menjawab: “Allahu Laa Ilaaha Illa Huwal Hayyul Qayyuum.” Ia (Abu Mundzir) berkata: “Lalu beliaupun menepuk dadaku seraya berkata: “Demi Allah, mudah-mudahan engkau dimudahkan untuk memperoleh ilmu hai Abu Mundzir.” (HR. Muslim )

“…tiada kehidupan untuk hati, tidak ada kesenangan dan ketenangan baginya, kecuali dengan mengenal Rabbnya, Sesembahan dan Penciptanya, dengan Asma’, Sifat dan Af’al (perbuatan)-Nya, dan seiring dengan itu mencintai-Nya lebih dari yang lain, dan berusaha mendekatkan diri kepada-Nya tanpa yang lain…”

Minggu, 06 Juni 2010

Penyebab Terputusnya Silaturrahim

Ada duapuluh faktor yang menyebabkan terputusnya silaturrahim, di antaranya ialah:

1 - Ketidaktahuan seseorang terhadap akibat buruk yang akan dideritanya dalam kehidupan dunia maupun akhirat akibat memutuskan silaturrahim, telah menyebabkannya melakukan pemutusan silaturrahim ini. Sebagaimana juga ketidaktahuan seseorang tentang keutamaan silaturrahim, membuat dia malas dan kurang semangat melakukannya.

2 - Orang yang melemah ketakwaan serta agamanya, maka dia tidak akan peduli dengan perbuatannya yang memotong sesuatu yang mestinya disambung. Dia tidak pernah tergiur dengan pahala silaturrahim yang dijanjikan Allah serta tidak merasa takut dengan akibat dari pemutuskan silaturrahim ini.

3
- Sebagian orang, jika sudah mendapatkan kedudukan yang tinggi , dia berubah sombong kepada keluarga dekatnya. Dia menganggap ziarah kepada keluarga merupakan kehinaan, begitu juga usaha merebut hati mereka, dianggapnya sebagai kehinaan. Karena ia memandang, hanya dirinya saja yang lebih berhak untuk diziarahi dan didatangi.

4 - perpisahan yang lama. Ada juga orang yang terputus komunikasi dengan keluarga dekatnya dalam waktu yang lama, sehingga dia merasa terasingkan dari mereka. Mula-mula dia menunda-nunda ziarah, dan itu terulang terus sampai akhirnya terputuslah hubungan dengan mereka. Dia pun terbiasa dengan terputus dan menikmati keadaannya yang jauh dari keluarga.

5 - Ada sebagian orang, jika dikunjungi oleh sebagian anggota keluarganya setelah terpisah sekian lama, dia menghujani saudaranya itu dengan hinaan dan celaan. Karena dinilai kurang dalam menunaikan haknya dan dinilai terlambat dalam berkunjung. Akibatnya, muncul keinginan menjauh dari orang yang suka mencela ini dan merasa takut untuk menziarahinya lagi karena khawatir dicela.

6 - Ada orang, jika dikunjungi oleh sanak familinya, dia terlihat membebani dirinya untuk menjamunya secara berlebihan. Dikeluarkannya banyak harta dan memaksa diri untuk menghormati tamunya, padahal dia kurang mampu. Akibatnya, saudara-saudaranya merasa berat untuk berkunjung kepadanya karena khawatir menyusahkan tuan rumah.

7
- Ada orang, jika dikunjungi oleh saudaranya, dia tidak memperlihatkan kepeduliannya. Dia tidak memperhatikan omongannya. Bahkan kadang dia memalingkan wajahnya saat diajak bicara. Dia tidak senang dengan kedatangan mereka dan tidak berterima kasih. Dia menyambut para pengunjung dengan berat hati dan sambutan dingin. Ini akan mengurangi semangat untuk mengunjunginya.

8
- Ada sebagian orang, jika diberi rezeki oleh Allah berupa harta atau wibawa, dia akan lari menjauh dari keluarga dekatnya, bukan karena ia sombong. Dia lebih memilih menjauhi mereka dan memutuskan silaturrahim daripada membukakan pintu buat kaum kerabatnya, menerima mereka jika bertamu, membantu mereka sesuai dengan kemampuan dan meminta maaf jika tidak bisa membantu. Padahal, apalah artinya harta jika tidak bisa dirasakan oleh kerabat!

9 - Terkadang ada harta warisan yang belum dibagi di antara ahli waris; entah karena malas atau karena ada yang membangkang. Semakin lama penundaan pembagian harta warisan, maka semakin besar kemungkinan akan menyebarnya permusuhan dan saling membenci di antara mereka. Karena ada yang ingin mendapatkan haknya untuk dimanfaatkan, ada juga ahli waris yang keburu meninggal sehingga ahli warisnya sibuk mengambil haknya mayit yang belum diambilnya, sementara yang lain mulai berburuk sangka kepada yang lainnya. Akhirnya perkara ini menjadi ruwet dan menjadi kemelut yang mengakibatkan perpecahan serta membawa kepada pemutusan silaturrahim.

10 - Sebagian orang bekerjasama dengan saudaranya dalam suatu usaha atau PT tanpa ada kesepakatan yang jelas. Ditambah lagi, dengan tidak adanya tranparansi. Usaha ini terbangun hanya berdasarkan suka sama suka dan saling mempercayai. Jika hasilnya mulai bertambah serta wilayah usahanya semakin melebar, mulai timbul benih perselisihan, perbuatan zhalim mulai mengemuka dan mulai timbul prasangka buruk kepada yang lain. Terutama jika mereka ini kurang bertakwa dan tidak memiliki sifat itsar (yaitu sifat lebih mendahulukan orang lain daripada dirinya), atau salah seorang di antara mereka keras kepala atau salah seorang di antara mereka ini lebih banyak modalnya dibandingkan yang lainnya. Dari suasana yang kurang sehat ini, kemudian hubungan semakin memburuk, perpecahan tak terelakkan, bahkan mungkin bisa berbuntut ke pengadilan. Akhirnya di persidangan mereka saling mencela.

Allah berfirman:

“Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zhalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih; dan amat sedikitlah mereka ini.” (QS. Shaad: 24)

11 - Orang yang rakus dunia seakan tidak memiliki waktu lagi untuk menyambung silaturrahim dan untuk berusaha meraih kecintaan kerabatnya.

12
- Kadang perceraian tak terelakkan antara suami istri yang memiliki hubungan kerabat. Ini menimbulkan berbagai macam kesulitan bagi keduanya, entah disebabkan oleh anak-anak atau urusan-urusan lain yang berkaitan erat dengan perceraian atau sebab yang lain.

13 - Kadang ada keluarga yang berjauhan tempat tinggalnya dan jarang saling berkunjung, sehingga merasa jauh dengan keluarga dan kerabatnya. Jika ingin berkunjung ke kerabat, tempat ia yang tuju itu terasa sangat jauh. Akhirnya jarang ziarah.

14 - Rumah yang berdekatan juga bisa mengakibatkan keretakan dan terputusnya silaturrahim. Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan, “Perintahkanlah kepada para kerabat agar saling mengunjungi bukan untuk saling bertetangga.” Al Ghazali mengomentari perkataan Umar ini, “Beliau mengucapkan perkataan ini, karena bertetangga bisa mengakibatkan persaingan hak. Bahkan mungkin bisa mengakibatkan rasa tidak suka dan pemutusan silaturrahim.” Aktsam bin Shaifi mengatakan, “Tinggallah di tempat yang berjauhan, niscaya kalian akan semakin saling mencintai.” Kadang juga, kedekatan ini menimbulkan masalah. Misalnya, problem yang terjadi antara anak dengan anak bisa merembet melibatkan orang tua. Masing-masing membela anaknya, sehingga menimbulkan permusuhan dan menyebabkan pemutusan silaturrahim.

15 - Ada sebagian orang yang tidak sabar dalam menghadapi masalah kecil dari kerabatnya. Terkadang hanya disebabkan oleh kesalahan kecil, dia segera mengambil sikap untuk memutuskan silaturrahim.

16 - Saat salah seorang kerabat memiliki acara walimah atau lainnya, dia mengundang kerabatnya, baik dengan lisan, lewat surat undangan atau lewat telepon. Saat memberikan undangan ini, kadang ada salah seorang kerabat yang terlupakan. Sementara yang terlupakan ini orang yang berjiwa lemah atau sering berburuk sangka. Kemudian orang yang berjiwa lemah ini menafsirkan kealpaan kerabatnya ini sebagai sebuah kesengajaan dan penghinaan kepadanya. Buruk sangka ini menggiringnya untuk memutuskan silaturrahim.

17
- Kadang ada orang yang Allah anugerahkan padanya ilmu, wibawa, harta atau kecintaan dari orang lain. Dengan anugerah yang disandangnya, ia membantu kerabatnya serta melapangkan dadanya buat mereka. Karena perbuatan yang baik ini, kemudian ada di antara kerabatnya yang hasad kepadanya. Dia menanamkan bibit permusuhan, membuat kerabatnya yang lain meragukan keikhlasan orang yang berbuat kebaikan tadi, dan kemudian menebarkan benih permusuhan kepada kerabat yang berbuat baik ini.

18 - Sering bergurau memiliki beberapa efek negatif. Kadang kala ada kata yang terucap dari seseorang tanpa memperdulikan perasaan orang lain yang mendengarnya. Perkataan menyakitkan ini kemudian menimbulkan kebencian kepada orang yang mengucapkannya. Fakta seperti ini sering terjadi di antara kerabat karena mereka sering berkumpul. Ibnu Abdil Baar mengatakan, “Ada sekelompok ulama yang membenci senda gurau secara berlebihan. Karena akibatnya yang tercela, menyinggung harga diri, bisa mendatangkan permusuhan serta merusak tali persaudaraan.”

19
- Terkadang ada orang yang memiliki hobi merusak hubungan antar kerabat –iyadzan billah. Orang seperti ini sering menyusup ke tengah orang-orang yang saling mencintai. Dia ingin memisahkan dan mencerai-beraikan persatuan, serta mengacaukan perasaan hati yang telah menyatu. Betapa banyak tali silaturrahim terputus, persatuan menjadi berantakkan disebabkan oleh fitnah. Dan merupakan kesalahan terbesar dalam masalah ini, yaitu percaya dengan fitnah.

20 - Terkadang seseorang diuji dengan istri yang berperangai buruk. Sang istri tidak ingin perhatian suaminya terbagi kepada yang lain. Dia terus berusaha menghalangi suami agar tidak berziarah ke kerabat. Di hadapan suami, istri ini memuji kedatangan kerabat mereka ke tempat tinggal suami dan menghalangi suami untuk bertamu ke kerabatnya. Sementara itu, ketika menerima kunjungan dari kerabat, dia tidak memperlihatkan wajah gembira. Ini termasuk hal yang bisa menyebabkan terputusnya silaturrahim. Ada juga suami yang menyerahkan kendali kepada istrinya. Jika istri ridha kepada kerabat, dia menyambung silaturrahim dengan mereka. Jika istri tidak ridha, maka dia akan memutuskannya. Bahkan sampai-sampai sang suami tunduk kepada istrinya dalam berbuat durhaka kepada kedua orang tuanya, padahal keduanya sangat membutuhkannya.

Demikian beberapa sebab yang bisa memutuskan tali silaturrahim. Sebagai orang yang beriman, kita harus menjauhi hal-hal yang dapat menyebabkan terputusnya tali silaturrahim ini. oleh karena itu, hendaklah kita menjaga silaturrahim, memupuknya, serta mencari sarana-sarana yang bisa mengokohkannya, agar tidak terkikis oleh derasnya arus budaya yang merusaknya.

Rabu, 26 Mei 2010

Doa dan Ikhtiar

Marilah kita berusaha untuk terus-menerus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah. Laksanakanlah perintah-perintah Allah semaksimal yang kita mampu dan jauhilah apa-apa yang dilarang-Nya secara keseluruhan.

Hampir setiap hari, bahkan dalam sehari semalam beberapa kali kita semua berdoa, memohon kepada Allah SWT. Yang sakit mohon kesembuhan. Yang mempunyai masalah mohon agar diselesaikan permasalahannya, berdoa mohon limpahan rizki dan seterusnya, Dari Hadits-hadits Nabi SAW kita juga sering mendengar, bahwa doa merupakan inti sari dari ibadah. Doa juga sebagai senjata bagi seorang mukmin.

Singkat kata, kita tak pernah lepas dari doa, Siang malam kita memohon, berdoa, bermunajah karena didorong rasa butuh atas berbagai karunia yang dimiliki oleh Allah. Dalam keadaan sulit, doa yang dipanjatkan sering kali dibarengi dengan tangisan, yang sekaligus sebagai pengakuan bagaimana kecil, lemah dan hinanya kita di hadapan Allah yang maha Besar.

Sering kali di dalam hati kita merasa bahwa doa-doa yang selama ini kita panjatkan belum di ijabahi oleh Allah, Bahkan mungkin ada juga yang merasa tidak diijabji oleh Allah,Yang pasti Allah yang telah memberi berbagai karunia sekalipun tanpa diminta, memerintahkan kita untuk berdoa, memohon dalam masalah apapun juga, Dan Dia Allah SWT, menjanjikan pengkabulan dari setiap doa yang dipanjatkan kepada-Nya.

Mintalah/berdoalah kepada-Ku, Aku akan memenuhinya.
Namun yang perlu kita ingat, bahwa terdapat syarat, tata cara dan adab dalam berdoa memohon kepada Allah, Iman, makanan yang halal, tidak memutuskan tali silaturrahmi, dan lain-lain merupakan sebagian dari syarat diterimanya sebuah doa.

Begitu juga dengan tata cara dan adab, seperti: dalam keadaan suci, memulai dengan membaca hamdalah, mengulang-ulang doanya hingga 3 kali, menghadap kiblat dan lain-lain, Pada dasarnya, bila persyaratan bagi terkabulnya sebuah doa telah terpenuhi, tak satupun doa yang tak diijabahi oleh Allah SWT, Hanya saja bentuk pengkabulan atau ijabah dari Allah melalui beberapa cara, Berdasarkan beberapa hadits dan riwayat, bentuk pengkabulan tersebut sesuai dengan apa yang diminta pemohon, dapat juga di tunda untuk beberapa waktu, atau dialihkan bala’ yang akan menimpa si pendoa, dan dapat pula dalam bentuk simpanan bagi si pendoa di akhirat kelak, Karena itu juga dalam kondisi apapun kita jangan sampai meninggalkan doa Husnudz dzan atau berprasangka baik terhadap Allah, juga termasuk kunci dari di ijabahi-tidaknya doa-doa kita.

Kita memohon berdoa menghendaki sesuatu, yang menurut pikiran kita bagus, Padahal bagus menurut pikiran kita, belum tentu dalam kenyataannya akan bagus, Sementara Allah SWT yang akan mengijabahi doa seseorang, mengetahui secara pasti apa hakekat baik dan yang terbagus untuk seseorang, Allah berfirman: Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al-Baqarah; 216)

Sekalipun Allah menjanjikan akan mengabulkan doa, namun mutlak masih memerlukan usaha dari si pemohon, Entah seperti apa dan bagaimana usaha yang dilakukan, yang penting usaha dengan cara-cara yang tidak melanggar larangan Allah, Dan sabar, merupakan kunci segala-galanya termasuk dalam pengkabulan doa.

Allah berfirman : Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Baqarah 153).

Dalam berbagai kesempatan, beberapa sahabat datang kepada Rasulullah SAW dan mohon agar didoakan, Mereka ingin lepas dari berbagai kesulitan yang sedang menimpa, Kepada mereka yang meminta doa ini, sering kali Rasulullah SAW tidak langsung mendoakannya, namun beliau mengingatkan, Bahwa bila seseorang sabar terhadap apa yang sedang menimpanya, maka akan mendapatkan pahala yang banyak dan surga.

Namun bila tetap memintanya untuk berdoa, maka beliaupun akan mendoakan, Sebagian sahabat yang datang meminta doa, memilih pahala dan surga dengan akan terus bersabar terhadap cobaan yang sedang mereka alami, Sebagian yang lain, memilih agar Rasulullah SAW mendoakan mereka,
Dalam sebuah sabdanya beliau SAW mengatakan:

“Kelak di hari kiamat, akan didatangkan mizan atau timbangan amal, Mereka para ahli sholat akan ditimbang amalnya, lalu akan diperhitungkan pahalanya, Begitu juga dengan mereka yang ahli puasa, mereka akan ditimbang amalnya dan akan diberi pahala, Lalu akan didatangkan para ahli bala’ (yakni manusia yang semasa hidupnya dahulu banyak menerima cobaan dan sabar menghadapinya) mereka diberi pahala tanpa perhitungan, tanpa melalui timbangan amal dan tanpa melihat catatan amalnya.

Karena sangat tingginya kedudukan ini, sampai-sampai mereka yang tidak termasuk ahlul bala’ mengatakan, “Andaikata aku seperti dia” Yakni andaikata aku di dunia dahulu juga seperti dia termasuk orang yang banyak menerima cobaan, Semua ini karena sangat banyaknya pahala yang mereka terima, bahkan tanpa perhitungan lagi.

Kami kira tak satupun dari kita yang mengharap cobaan, Namun yang perlu kita ingat, tak satupun dari kita yang akan terbebas dari cobaan, Yang kita minta kepada Allah dalam doa-doa kita, adalah agar dijauhkan dari cobaan yang berat, kelembutan, dan rasa sabar dalam menerimanya, Karena itu juga, jangan sampai kita bosan apalagi berputus asa dalam berdoa, memohon kepada Allah, Setelah itu kita wajib berusaha, berikhtiar sebagai upaya melepaskan diri dari berbagai cobaan Dan terakhir, sekalipun mudah untuk diucapkan tetapi sulit untuk dipraktekkan, kita berusaha dan melatih diri untuk terus bersabar.

Insya Allah semuanya mampu kita hadapi dengan kesabaran, ketawakkalan dan diberi pahala oleh Allah, Semoga Allah SWT menjaga kita semua dari berbagai bala’, bencana dan cobaan yang kita tak kuasa memikulnya, Serta menganugerahi kita hati yang sabar dan tawakkal dalam menghadapi apapun juga, amiiiiin.

Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal sholeh, saling memberi nasehat mengenai kebenaran dan saling memberi nasehat mengenai kesabaran, Ingatlah bahwa dosa dan kemaksiatan telah menghitam kelamkan hati kita, Bergegaslah untuk menghapusnya dengan bertaubat, Mohonlah dibukakan pintu rahmat dengan istighfar, karena hanya Allah-lah yang kusa membukanya.

Janganlah Anda menjadikan dunia sebagai tumpuan harapan hingga melupakan akhirat, Ambilah pelajaran dari umat terdahulu, Mereka yang mempunyai kedudukan yang tinggi, kekayaan yang melimpah, kekuatan yang perkasa, kesemuanya kini berbaring kaku di dalam perut bumi, Mereka tertidur berbantalkan tanah, setelah sebelumnya tinggal di rumah yang telah mereka bangun hingga melalaikan perintah Allah.

Senin, 10 Mei 2010

Nasihat Berharga Bag 3

1. Kesabaran yang disertai iman kepada Allah membawa kemenangan.

2. Orang yang bahagia adalah orang yang merendah diri dan mengharapkan syafaat dari Tuhannya dengan amal-amal solehnya.

3. Bila kamu memohon sesuatu dari Allah dan berdoa, maka Ikhlaskanlah niatmu. Demikian pula puasa dan solatmu.

4. Janganlah bersumpah dengan keadaan kamu berdusta dan janganlah menuntut sumpah dari orang yang berdusta agar kamu tidak menyekutui mereka dalam dosa.

5. Taatlah kepada raja-rajamu dan tunduklah kepada pembesar-pembesarmu Apabila keduanya tadi amat taat kepada Allah, serta penuhilah selalu mulut-mulutmu dengan ucapan syukur dan puji kepada Allah.

6. Janganlah Iri kepada orang yang mujur nasibnya, karena mereka tidak akan lama menikmati kemujuran nasibnya.

7. Barangsiapa melampaui kesederhanaan, tidak suatupun akan memuaskannya.

8. Tanpa membagi-bagikan nikmat yang diperoleh, seseorang tidak dapat bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat yang diperolehinya itu.

NASAIHUL IBAD

Sabtu, 08 Mei 2010

Mengapa Air Mata Asin Rasanya? Mengapa Air Liur Tawar Rasanya? Mengapa Air Telinga Pahit Rasanya?

Allah menciptakan air mata rasanya asin, tujuannya agar dapat menjaga kesehatan mata, sebab lemak yang ada pada mata mudah sekali rusak, maka air matapun diciptakan asin untuk memelihara keduanya.

Dan Allah menciptakan air liur itu rasanya tawar agar dapat mencicipi berbagai jenis rasa sesuai dengan rasa aslinya. Sebab, bila rasanya tidak tawar, tentunya setiap rasa akan berubah. Misalnya orang yang air liurnya menjadi pahit karena penyakit, maka segala sesuatu yang dicicipinya menjadi pahit, padahal sebenarnya tidak pahit.

Seorang penyair berkata :
Siapa saja yang air liurnya pahit karena sakit
Maka air tawar akan terasa pahit baginya

Sudah merupakan ketentuan Allah Subhaanahu Wata’aala bahwasannya air telinga itu pahit rasanya. Fungsinya adalah agar hewan-hewan kecil tidak mudah masuk ke dalam rongga telinga. Setiap kali ada hewan kecil yang berusaha masuk ke dalamnya, pastilah ia akan segera berbalik mencari jalan keluar.

Pengikut