"Lagu Panggilan Jihad.mp3"

Minggu, 05 September 2010

TENTANG SEPULUH HARI AKHIR DI BULAN RAMADHAN

Dari Aisyah radhiallahu 'anha, ia berkata :

"Bila masuk sepuluh (hari terakhir bulan Ramadhan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengencangkan kainnya menjauhkan diri dari menggauli istrinya), menghidupkan malamnya dan membangunkan Keluarganya . " Demikian menurut lafazh Al-Bukhari.

Adapun lafazh Muslim berbunyi :

"Menghidupkan malam(nya), membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh serta mengencangkan kainnya.


Dalam riwayat lain, Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah radhiallahu ‘anha :

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersungguh-sungguh dalam sepuluh (hari) akhir (bulan Ramadhan), hal yang tidak beliau lakukan pada bulan lainnya. "


Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengkhususkan sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dengan amalan-amalan yang tidak beliau lakukan pada bulan-bulan yang lain, di antaranya:



Menghidupkan malam: Ini mengandung kemungkinan bahwa beliau menghidupkan seluruh malamnya, dan kemungkinan pula beliau menghidupkan sebagian besar daripadanya. Dalam Shahih Muslim dari Aisyah radhiallahu 'anha, ia berkata:

"Aku tidak pernah mengetahui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam shalat malam hingga pagi. "

Diriwayatkan dalam hadits marfu' dari Abu Ja'far Muhammad bin Ali :

"Barangsiapa mendapati Ramadhan dalam keadaan sehat dan sebagai orang muslim, lalu puasa pada siang harinya dan melakukan shalat pada sebagian malamnya, juga menundukkan pandangannya, menjaga kemaluan, lisan dan tangannya, serta menjaga shalatnya secara berjamaah dan bersegera berangkat untuk shalat Jum'at; sungguh ia telah puasa sebulan (penuh), menerima pahala yang sempurna, mendapatkan Lailatul Qadar serta beruntung dengan hadiah dari Tuhan Yang Mahasuci dan Maha tinggi. " Abu Ja 'far berkata: Hadiah yang tidak serupa dengan hadiah-hadiah para penguasa. (HR. Ibnu Abid-Dunya).


Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membangunkan keluarganya untuk shalat pada malam-malam sepuluh hari terakhir, sedang pada malam-malam yang lain tidak.

Dalam hadits Abu Dzar radhiallahu 'anhu disebutkan:

"Bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasalam melakukan shalat bersama mereka (para sahabat) pada malam dua puluh tiga (23), dua puluh lima (25), dan dua puluh tujuh (27) dan disebutkan bahwasanya beliau mengajak (shalat) keluarga dan isteri-isterinya pada malam dua puluh tujuh (27) saja. "


Ini menunjukkan bahwa beliau sangat menekankan dalam membangunkan mereka pada malam-malam yang diharapkan turun Lailatul Qadar di dalamnya.


At-Thabarani meriwayatkan dari Ali radhiallahu 'anhu :

"Bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membangunkan keluarganya pada sepuluh akhir dari bulan Ramadhan, dan setiap anak kecil maupun orang tua yang mampu melakukan shalat. "


Dan dalam hadits shahih diriwayatkan :

"Bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengetuk (pintu) Fathimah dan Ali radhiallahu 'anhuma pada suatu malam seraya berkata:

Tidakkah kalian bangun lalu mendirikan shalat ?" (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Beliau juga membangunkan Aisyah radhiallahu 'anha pada malam hari, bila telah selesai dari tahajudnya dan ingin melakukan (shalat) witir.


Dan diriwayatkan adanya targhib (dorongan) agar salah seorang suami-isteri membangunkan yang lain untuk melakukan shalat, serta memercikkan air di wajahnya bila tidak bangun). (Hadits riwayat Abu Daud dan lainnya, dengan sanad shahih.)


Dalam kitab Al-Muwaththa' disebutkan dengan sanad shahih, bahwasanya Umar radhiallahu 'anhu melakukan shalat malam seperti yang dikehendaki Allah, sehingga apabila sampai pada pertengahan malam, ia membangunkan keluarganya untuk shalat dan mengatakan kepada mereka: "Shalat! shalat!" Kemudian membaca ayat ini :

"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. " (Thaha: 132).


Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengencangkan kainnya. Maksudnya beliau menjauhkan diri dari menggauli isteri-isterinya. Diriwayatkan bahwasanya beliau tidak kembali ke tempat tidurnya sehingga bulan Ramadhan berlalu.


Dalam hadits Anas radhiallahu 'anhu disebutkan :

"Dan beliau melipat tempat tidurnya dan menjauhi isteri-isterinya (tidak menggauli mereka).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam beri'tikaf pada malam sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Orang yang beri'tikaf tidak diperkenankan mendekati (menggauli) isterinya berdasarkan dalil dari nash serta ijma'. Dan "mengencangkan kain" ditafsirkan dengan bersungguh-sungguh dalam beribadah.



Mengakhirkan berbuka hingga waktu sahur.

Diriwayatkan dari Aisyah dan Anas uadhiallahu 'anhuma, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada malam-malam sepuluh (akhir bulan Ramadhan) menjadikan makan malam (berbuka)nya pada waktu sahur.Dalam hadits marfu' dari Abu Sa'id radhiallahu 'anhu, ia berkata :

"Janganlah kalian menyambung (puasa). Jika salah seorang dari kamu ingin menyambung (puasanya) maka hendaknya ia menyambung hingga waktu sahur (saja). " Mereka bertanya: "Sesungguhnya engkau menyambungnya wahai Rasulullah ? "Beliau menjawab: "Sesungguhnya aku tidak seperti kalian. Sesungguhnya pada malam hari ada yang memberiku makan dan minum. "(HR. Al-Bukhari)


Ini menunjukkan apa yang dibukakan Allah atas beliau dalam puasanya dan kesendiriannya dengan Tuhannya, oleh sebab munajat dan dzikirnya yang lahir dari kelembutan dan kesucian beliau. Karena itulah sehingga hatinya dipenuhi Al-Ma'ariful Ilahiyah (pengetahuan tentang Tuhan) dan Al-Minnatur Rabbaniyah (anugerah dari Tuhan) sehingga mengenyangkannya dan tak lagi memerlukan makan dan minum.



Mandi antara Maghrib dan Isya'.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Aisyah radhiallahu 'anha :

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam jika bulan Ramadhan (seperti biasa) tidur dan bangun. Dan manakala memasuki sepuluh hari terakhir beliau mengencangkan kainnya dan menjauhkan diri dari (menggauli) isteri-isterinya, serta mandi antara Maghrib dan Isya."

Ibnu Jarir rahimahullah berkata, mereka menyukai mandi pada setiap malam dari malam-malam sepuluh hari terakhir. Di antara mereka ada yang mandi dan menggunakan wewangian pada malam-malam yang paling diharapkan turun Lailatul Qadar.


Karena itu, dianjurkan pada malam-malam yang diharapkan di dalamnya turun Lailatul Qadar untuk membersihkan diri, menggunakan wewangian dan berhias dengan mandi (sebelumnya), dan berpakaian bagus, seperti dianjurkannya hal tersebut pada waktu shalat Jum'at dan hari-hari raya.


Dan tidaklah sempurna berhias secara lahir tanpa dibarengi dengan berhias secara batin. Yakni dengan kembali (kepada Allah), taubat dan mensucikan diri dari dosa-dosa. Sungguh, berhias secara lahir sama sekali tidak berguna, jika ternyata batinnya rusak.


Allah tidak melihat kepada rupa dan tubuhmu, tetapi Dia melihat kepada hati dan amalmu. Karena itu, barangsiapa menghadap kepada Allah, hendaknya ia berhias secara lahiriah dengan pakaian, sedang batinnya dengan taqwa. Allah Ta'ala berfirman :

"Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. " (Al-A'raaf: 26).



I'tikaf. Dalam Shahihain disebutkan, dari Aisyah radhiallahu 'anha :

Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam senantiasa beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir dari Ramadhan, sehingga Allah mewafatkan beliau. "


Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melakukan i'tikaf pada sepuluh hari terakhir yang di dalamnya dicari Lailatul Qadar untuk menghentikan berbagai kesibukannya, mengosongkan pikirannya dan untuk mengasingkan diri demi bermunajat kepada Tuhannya, berdzikir dan berdo'a kepada-Nya.


Adapun makna dan hakikat i'tikaf adalah:

Memutuskan hubungan dengan segenap makhluk untuk menyambung penghambaan kepada AI-Khaliq. Mengasingkan diri yang disyari'atkan kepada umat ini yaitu dengan i'tikaf di dalam masjid-masjid, khususnya pada bulan Ramadhan, dan lebih khusus lagi pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Sebagaimana yang telah dilakukan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.


Orang yang beri'tikaf telah mengikat dirinya untuk taat kepada Allah, berdzikir dan berdo'a kepada-Nya, serta memutuskan dirinya dari segala hal yang menyibukkan diri dari pada-Nya. Ia beri'tikaf dengan hatinya kepada Tuhannya, dan dengan sesuatu yang mendekatkan dirinya kepada-Nya. Ia tidak memiliki keinginanlain kecuali Allah dan ridha-Nya. Sembga Alllah memberikan taufik dan inayah-Nya kepada kita.

Jumat, 03 September 2010

Menjadi orang yang selalu beruntung

Sering kita melihat atau mengenal teman, sahabat, saudara atau orang lain nasibnya mujur sekali seolah - olah "rejeki" adalah pasangan hidupnya. Hidupnya sungguh enak sekali, tanpa usaha keras tapi selalu lebih beruntung, misal: sering menang undian, sering menang quis,dll. bahkan kalo kita jalan bareng "Si Gladstone" dan dijalan ada uang jatuh, hampir bisa dipastikan dia dulu yang menemukannya. Heheheheh..... Siapa sih yang ngga' kepingin menjadi orang - orang yang beruntung macam ini.
Tenang aja ternyata siapapun didunia ini bisa menjadi seperti itu......, berikut adalah beberapa tips untuk menjadi orang yang beruntung:
1. Bertaqwa kepada Allah, Allah berfirman : " Dan barang siapa yang ber Taqwa pada Allah, maka baginya akan diberikan jalan keluar dan akan diberikan Rizqi yang datangnya tanpa disangka-sangka ".( QS Ath Tholaq : 2-3 )
2. Khusnudzon atau berprasangka baik, khusnudzon baik kepada diri sendiri, sesama manusia, sesama makhluk Allah, dan harus khusnudzon kepada Allah. Allah berfirman dalam hadits Qudsi, yang artinya : "Aku sebagaimana prasangka hamba-Ku. Kalau ia berprasangka baik, maka ia akan mendapatkan kebaikan. Bila ia berprasangka buruk, maka keburukan akan menimpanya".
3. Syukur nikmat lupa kesedihan, kalo kita pingin jadi orang yang ditemani keberuntungan kita harus mudah mengakui dan mensyukuri setiap tetes nikmat dan melupakan kesedihan dalam hidup ini. Kesedihan akan menjauhkan diri dari syukur. Kalo kita menulis banyaknya nikmat hidup ini dibanding kesedihan yang kita peroleh dalam sehari, aku yakin 2000% lebih banyak nikmat yang kita peroleh, Allah berfirman : " Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami ( Allah ), akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari ( Nikmat-KU ), sesungguhnya Azab-KU sangat pedih " ( QS Ibrahim : 7 ).
4. Istghfar, setiap manusia tidak lepas dari dosa, setiap dosa mendekatkan kita pada murka Allah jadi wajib bagi kita banyak - banyak istighfar memohon ampun atas dosa. Firman Allah : " Mohonlah Ampunan kepada Tuhanmu, sesungguhnya dia adalah Maha Pengampun, niscaya DIA akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan pula sungai-sungai ". (QS Nuh : 10-12 )
" Memperbanyak Istighfar itu dapat mendatangkan ( menarik ) rejeki " ( Lubabu al Hadits)
5. infaq dan sedekah, infaq dan sedekah itu nggak bakal membuat kita bangkrut, yang bikin bangkrut itu maksiat. Allah berfirman : " Dan apa saja yang engkau Infaqkan, maka Allah akan mengganti. Dan DIA-lah sebaik-baik Pemberi Rizqi ". ( QS Saba' : 39 ) "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir, seratus biji. Allah melipat-gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.(QS. Al-Baqarah : 261)
6. Silaturahmi, Sabda Rasulullah SAW:“Barangsiapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturahim.” (Shahih Bukhari)
7. Berdoa, Kita yakin Allah adalah yang memberi dan memiliki rezeki dan kekuatan, maka wajar saja kalo kita meminta kepada Allah agar dijadikan Allah orang yang selalu dekat dengan rezeki. Firman Allah : "Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina"(QS Al-Ghafir:60)." Dialah Allah yang menjadikan Bumi ini mudah bagi Kamu, maka berjalanlah disegala penjuru dan makanlah sebagian dari Rizqi-NYA. Dan hanya kepada-NYA lah kamu ( kembali setelah ) dibangkitkan ". ( QS Al Mulk : 15 )

Kamis, 26 Agustus 2010

Keistimewaan bulan Ramadhan

SEANDAINYA ENGKAU MENGETAHUI KEISTIMEWAAN BULAN RAMADHAN

1. Di bulan yang sangat berharga dan mahal ini, sudahkah kita mengisinya dengan ibadah dan amalan-amalan yang baik? Seandainya kita tahu sabda Rasulullah SAW:

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِيْ رَمَضَانَ لَتَمَنَّى أَنْ تَكُوْنَ الشُّهُوْرُ كُلَّهَا رَمَضَانَ

“ Seandainya manusia mengetahui kebaikan dan keistimewaan yang ada di bulan Ramadhan, niscaya mereka menginginkan seluruh bulan yang ada menjadi bulan Ramadhan .”

Tapi pada kenyataannya, kita tidak mahutahu dengan mahalnya bulan Ramadhan, malah kita sering mengeluh dan merasa beban dalam menjalaninya.

2. Sudah berapa kalikah kita khatam membaca Al-Qur'an di bulan Ramadhan ini? Seandainya kita tahu sabda Rasulullah SAW:
مَ .نْ تَلاَ فِيْهِ آيَةً مِنَ الْقُرْآنِ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ خَتَمَ اْلقُرْآنِ فِيْ غَيْرِهِ مِنَ الشُّهُوْرِ
“Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatamkan Al-Quran pada bulan-bulan yang lain. “

Tapi pada kenyataannya, kita sering lupa atau mungkin melupakannya. Kita merasa sibuk. Kita merasa tidak sempat. Kita tidak berusaha meluangkan waktu untuk membaca kalam Tuhan yang mulila.

3. Sudahkah kita mengisi malam-malam Ramadhan dengan tarawih, tahajjud, hajat, istikharah, taubat, witir dan amalan-amalan sunah lainnya? Seandainya kita tahu sabda Rasulullah SAW:
شَهْرٌ هُوَ عِنْدَ اللهِ أَفْضَلُ الشُّهُوْرِ، وَأَيَّامُهُ أَفْضَلُ اْلأَيَّامِ، وَلَيَالِيْهِ أَفْضَلُ اللَّيَالِي، وَسَاعَاتُهُ أَفْضَلُ السَّاعَاتِ
“Dia adalah b ulan yang paling mulia disisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama.”
Tapi pada kenyataannya kita sering lupa atau mungkin melupakannya, sehingga kita nyenyak dalam tidur panjang di malam hari.

4. Sudahkah kita memanfaatkan sepertiga malam yang akhir untuk mohon ampun dan beribadah kepada Allah SWT. Seandainya kita tahu, sepertiga malam adalah saat yang paling utama di sisi Allah untuk meminta dan bertaubat. Karena pada detik-detik itu Allah SWT turun ke langit dunia, seraya memanggil-manggil hamba-Nya:
هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَسْتَغْفِرَ لَهُ هَلْ مِنْ تَائِبٍ فَأَتُوْبَ عَلَيْهِ هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَأُعْطِيْهِ حَتَّى يَنْفَجِرَ الْفَجْرُ.


“Adakah di antara kalian yang mohon ampun, pasti aku ampuni. Adakah yang bertaubat, pasti aku terima taubatnya. Adakah yang meminta, pasti aku kabulkan permintaannya, sampai datang waktu subuh.”

Allah SWT juga berfirman:

وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ (الذاريات: 18)

“Dan di waktu sahur (yaitu akhir malam) mereka selalu memohon ampunan.”


Tapi pada kenyataannya kita sering lupa atau malah melupakannya. Sehingga sehabis makan sahur, yaitu sekitar jam empat atau jam seterngah empat dini hari, kita malah menyibukkan diri dengan menonton televisi sambil menunggu adzan shubuh atau mungkin melanjutkan tidur lagi.

5. Sudahkah kita memiliki tekad yang kuat untuk mendapatkan malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan? Seandainya kita tahu sabda Rasulullah SAW:

فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ (رواه النسائى وابن ماجه وأحمد)


“Di dalam Ramadhan ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang terhalang dari malam itu maka dia telah terhalang dari mendapatkan kebaikan.”


Tapi pada kenyataannya kita masih bermalas-malasan untuk menghidupkan malam ramadhan dengan ibadah dan qiyamullail.


6. Sudahkah kita menginfakkan harta kita kepada para fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan? Seandainya kita tahu sabda Rasulullah SAW:


مَنْ أَكْرَمَ فِيْهِ يَتِيْمًا أَكْرَمَهُ اللهُ يَوْمَ يَلْقَاهُ


“Barang siapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. ”
Rasulullah SAW juga telah bersabda:
لَا يَنْقُصُ مَالٌ مِنْ صَدَقَةٍ
“Harta yang disedekahkan tidak akan berkurang.”
7. Sudahkah jiwa sosial kita terpanggil untuk juga peduli kepada saudara-saudara kita sesama muslim yang berpuasa. Seandainya kita tahu sabda Rasulullah SAW:
مَنْ فَطَّرَ مِنْكُمْ صَائِماً مُؤْمِناً فِيْ هَذَا الشَّهْرِ كَانَ لَهُ بِذَلِكَ عِنْدَ اللهِ عِتْقُ رَقَبَةٍ، وَمَغْفِرَةٌ لِمَا مَضَى مِنْ ذُنُوْبِهِ . فَقِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَلَيْسَ كُلُّنَا يَقْدِرُ عَلَى ذَلِكَ؟ فَقَالَ (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَسَلَّمَ) : اِتَّقُوْا اللهَ وَلَوْ بِشُرْبَةٍ مِنْ مَاءٍ، وَاتَّقُوْا النَّارَ وَلَوْ بَشَقِّ تَمْرَةٍ.


"Barang siapa di antara kalian memberi makanan untuk berbuka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu. Sahabat-sahabat lain bertanya: "Ya Rasulullah! Tidak semua kami mampu berbuat demikian." Rasulullah meneruskan: "Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air."


8. Sudahkah kita turut meringankan beban orang lain di bulan ini. Seandainya kita tahu sabda Rasulullah SAW:
مَنْ خَفَّفَ فِيْهِ عَمَّا مَلَكَتْ يَمِيْنُهُ خَفَّفَ اللهُ عَلَيْهِ حِسَابَهُ


“Siapa yang meringankan pekerjaan para pegawai atau pembantu nya di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat.”

9. Sudahkah kita berusaha keras untuk beribadah dan beramal sholeh di bulan ini? Seandainya kita tahu sabda Rasulullah SAW:


مَنْ تَقَرَّبَ فِيْهِ بِخَصْلَةٍ مِنَ الْخَيْرِ كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ، وَمَنْ أَدَّى فِيْهِ فَرِيْضَةً كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِيْنَ فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ.
“Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu kebajikan di bulan ini, seperti orang yang menunaikan ibadah fardhu di bulan lain. Barangsiapa melakukan shalat fardu di bulan ini, seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain.”


10. Sudahkah kita banyak bershalawat kepada Rasulullah SAW di bulan ini? Seandainya kita tahu sabda Rasulullah SAW:


مَنْ أَكْثَرَ فِيْهِ مِنَ الصَّلاَةِ عَلَيَّ، ثَقَّلَ اللهُ مِيْزَانَهُ يَوْمَ تَخُفُّ اْلمَوَازِيْنُ



“Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan.”


Dan terakhir saya sampaikan, sudahkah kita sadar betul dengan harga dan nilai bulan suci Ramadhan. Dengan segala keutamaan dan keistimewaan bulan ini. Bulan yang penuh dengan rahmat, sarat dengan ampunan, dan bulan pembebasan dari api neraka. Sehingga kita tidak termasuk ke dalam sabda Rasulullah SAW:
رَغْمَ أَنْفِ امْرِئٍ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ


“Celakalah orang yang telah melewati bulan Ramadhan, tapi dosanya tidak diampuni.”
Dan bagi yang beruntung Allah SWT menjanjikan melalui lisan Rasul-Nya:


إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ. (رواه البخاري ومسلم)


“Sesungguhnya di surga itu ada sebuah pintu yang disebut “Rayyan”. Akan masuk dari pintu ini di hari kiamat semua orang yang puasa dan tidak yang lain. Dikatakan saat itu: “Mana orang-orang yang berpuasa?” Maka orang-orang yang berpuasa pun masuk, dan tidak bagi yang lain. Jika mereka telah masuk, pintu akan ditutup dan tidak akan masuk ke dalamnya seorangpun” . (HR Bukhari-Muslim).

Minggu, 22 Agustus 2010

Do'a mohon Kebaikan dalam agama

اللّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِيْنِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيْهَا مَعَاشِي، وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادِيْ وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلَِّ خَيْرٍ وَالْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ

Allahumma ashlih dînî al-Ladzî huwa 'ishmatu amrî wa ashlih lî dunyâya al-Latî fîhâ ma'âsyî, wa ashlih lî âkhirotî al-Latî ilaihâ ma'âdî waj'al al-Hayâta ziyâdatan lî fî kulli khoir wa al-Mauta râhatan lî min kulli syarrin

"Ya Allah Perbaikilah kehidupan agamaku, yang ia adalah benteng bagi segala urusanku
Perbaiki urusan duniaku yang padanya kehidupanku
Perbaikilah akhiratku, yang padanya tempatku kembali
Jadikanlah hidup ini sebagai lahan upayaku menambah segala kebajikan
Dan jadikanlah mati sebagai titik henti bagiku dari segala keburukan"

Kamis, 19 Agustus 2010

Doa Cahaya

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ لِّي نُورًا فِي قَلْبِي وَنُورًا فِي قَبْرِي وَنُورًا فِي سَمْعِي وَنُورًا فِي بَصَرِي وَنُورًا فِي شَعْرِي وَنُورًا فِي بَشَرِي وَنُورًا فِي لَحْمِي وَنُورًا فِي دَمِي وَنُورًا فِي عِظَامِي وَنُورًا فِي عَصَبِي وَنُورًا مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَنُورًا مِنْ خَلْفِي وَنُورًا عَنْ يَمِينِي وَنُورًا عَنْ شِمَالِي وَنُورًا مِنْ فَوقِي وَنُورًا مِنْ تَحْتِي . اللَّهُمَّ زِدْنِي نُورًا وَأَعْطِنِي نُورًا وَاجْعَلْ لِي نُورًا . وَصَلَّى الله ُعَلَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ .

Ya Allah, anugerahilah aku cahaya; cahaya di dalam hati ku, cahaya didalam kubur ku, cahaya di pendengaran dan mata ku, cahaya dalam daging dan cahaya dalam darahku dan cahaya dalam tulang ku, dan terang dalam gugup . cahaya di kiri dan kanan ku, di atas dan bawah ku .Ya Allah yang meningkatkan cahaya ku dan berikan aku terang dan anugerahilah aku cahaya. Semoga Engkau limpahkan shalawat dan salam kepada junjungan ku Nabi Muhammad Saw beserta keluarganya dan sahabatnya, dan semoga Engkau limpahkan pula keselamatan.

Minggu, 01 Agustus 2010

Empat Kaidah Iyyaaka Na'budu

Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan." (Al-Fatihah: 5).
Sebagai muslim tentunya ayat di atas tidak asing bagi kita. Minimal tujuh belas kali kita ulang dalam salat fardu lima waktu. Namun, pernahkah kita bertanya pada diri sendiri, sejauh mana kita dapat menyelami makna surat Al-Fatihah tersebut? Kalau belum, mari sejenak kita menyelami empat kaidah iyyaaka na'budu yang dikemukan oleh Ibnul Qayyim sebagai berikut.
Iyyaaka na'budu tegak di atas empat kaidah: mewujudkan apa yang dicintai dan diridai Allah dan Rasul-Nya, berupa:
1. perkataan hati,
2. perkataan lisan,
3. amalan hati,
4. amalan jawarih (anggota tubuh).
Ubudiyyah merupakan sebutan yang menyeluruh untuk empat tingkatan ini. Orang yang melaksanakan iyyaaka na'budu dengan sebenar-benarnya ialah yang melaksanakan empat tingkatan ini.
Perkataan hati ialah meyakini apa yang disampaikan Allah tentang diri-Nya, asma, sifat, dan perbuatan-Nya, tentang malaikat, dan perjumpaan dengan-Nya, sebagaimana yang disampaikan para rasul-Nya.
Perkataan lisan ialah berupa pernyataan darinya tentang hal itu, seruan kepada Allah (dakwah), menjelaskan kebatilan bidah, mengingat Allah dan menyampaikan perintah-perintah-Nya.
Amal-amal hati adalah seperti cinta kepada Allah, tawakal, bergantung kepada-Nya, takut dan berharap kepada-Nya, memurnikan agama dengan melaksanakan agama-Nya sesuai ajaran Rasul-Nya, sabar dalam melaksanakan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-

larangan-Nya, rida kepada-Nya, menolong karena-Nya dan bermusuhan karena-Nya pula, tunduk dan patuh kepada-Nya, thuma'ninah kepada-Nya, dan lain sebagainya yang berupa amalan hati. Kefarduan amalan hati ini lebih dari kefarduan amalan anggota tubuh, dan yang sunahnya lebih disukai oleh Allah daripada sunah-sunah anggota tubuh. Adapun amal-amal jawarih adalah seperti salat, puasa, jihad, mengayunkan kaki menuju salat jamaah dan salat Jumat, membantu orang lain, berbuat kebajikan kepada makhluk, dan sebagainya.
Iyyaaka na'budu mengikuti hukum empat kaidah dan ikrar kepadanya. Adapun iyyaaka nasta'iin merupakan tuntutan meminta pertolongan atas hokum-hukum itu serta taufik-Nya. Sedangkan ihdinaa ash-shiraath al-mustaqiim mencakup pengakuan terhadap dua perkara ini secara detail, ilham untuk melaksanakannya dan meniti jalan-jalan orang-orang yang berjalan kepada Allah dengan dua perkara itu.
Semua rasul hanya menyeru kepada iyyaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin. Mereka semua menyeru kepada tauhidullah (mengesakan Allah) dan penyembahan hanya kepada-Nya, semenjak rasul pertama hingga terakhir.
Demikianlah ulasan singkat ini untuk dapat menjadi bahan renungan bagi kita. Wallahu a'lam.
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Fadhilah Asmaul Husna ( BAG 4 )

Asmaul Husna merupakan amalan yang bermanfaat dan mempunyai nilai yang tak terhingga tingginya. “Allah memiliki Asmaul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan (menyebut) nama-nama-Nya yang baik itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al A’raf: 180) Katakanlah, “serulah Allah atau serulah ar Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu menyeru-Nya, maka bagi-Nya nama-nama yang baik.” (QS. Al Isra’: 110)

Sebelum membahas tentang rahasia dibalik nama nama Allah itu, kita kaji terlebih dahulu makna terdalam dari Asma'ul Husna satu persatu:

31. Al Lathiif

Artinya Yang Maha lembut. Semua perbuatan Allah sesungguhnya didasarkan pada sifat ini. Dan kelembutan Allah yang diberikan kepada semua makhluk-nya adalah atas dasar sifat rahman dan rahim-Nya.

32. Al-Khabiir

Artinya Yang Maha Memberitakan. Allah adalah Dzat Yang selalu memberitakan kepada semua hamba-Nya tentang segala hal yang dibutuhkan dan tentang hal yang bisa menyelamatkan atau menyesatkan. Sebagai sebentuk sifat Al Khabiir ini Allah mengutus para nabi dan Rasul supaya manusia mengetahui dan memahami tentang kabar-kabar yang patut untuk didengar dan dilaksanakan.

33. Al Haliim

Artinya Yang Maha Penyantun. Allah adalah Dzat yang paling penyantun. Allah memperlakukan semua makhluk-Nya dengan sifat penyantun ini. Makanya tak ada satupun dari ciptaan-Nya yang tak sempurna. Semua itu karena Allah menciptakan sekaligus memelihara semua makhluk dengan penuh rasa santun.

34.Al Adziim

Artinya Dia-lah Dzat Yang Maha Agung. Keagungan Allah meliputi segala sifat dan Dzat-Nya.

35.Al Ghafuur

Artunya Yang Maha Pengampun. Dia-lah Dzat Yang Maha Pengampun. Dia-lah Yang memberi ampun kepada hambanya-Nya yang mau bertobat. Pintu pengampunan Allah terus terbuka bagi siapa saja yang ingin bertobat meski dengan membawa segudang dosa dan salah.

36. Asy Syukuur

Artinya Yang Berterima Kasih, Maha Membalas. Dia-lah Dzat yang sangat berterima kasih. Dan Dia-lah Yang Maha Membalas semua perbuatan manusia, baik buruknya dengan balasan yang setimpal.

37. Al 'Aliy

Artinya Yang Maha Tinggi. Dia-lah Dzat Yang Maha Tinggi martabat-Nya. Tak ada yang mengungguli keagungan Allah. Tak ada makhluk yang mempunyai kedudukan tinggi melebihi kedudukan Allah, bahkan menyamai pun tak akan pernah ada.

38. Al Kabiir

Artinya Yang Maha Besar. Dia-lah Dzat Yang Maha Besar. Kebesaran Allah meliputi semua Dzat dan sifat-Nya yang tak ada satupun makhluk yang menyamai-Nya.

39. Al Hafiidz

Artinya Yang Maha Memelihara. Dia-lah dzat yang melindungi dan memelihara. Melindungi makhluk-Nya dari kerusakan dan bahaya. Dia-lah yang menciptakan semua makhluk tanpa membiarkan mereka begitu saja, namun Dia terus dan selalu memberikan perlindungan-Nya dan terus memelihara mereka semua.

40. Al Muqiith

Artinya Yang Memberi Makanan. Dia-lah Allah Dzat Yang menciptakan makhluk sekaligus memberikan jatah makan bagi mereka. Tak ada satu pun makhluk di bumi ini yang tak diberi jatah makan dari Allah. Allah sudah menurunkan rizki-Nya yang dengan itu makhluk bisa memanfaatkannya untuk kelangsungan hidup mereka.

Pengikut