"Lagu Panggilan Jihad.mp3"

Kamis, 06 Mei 2010

Berdusta Atas Nama Allah



berbohong adalah perbuatan dosa, kita juga menyadari kebohongan adalah perbuatan tercela. namun ada dosa yang lebih besar daripada berbohong, yaitu jika engkau bersumpah dengan kebohonganmu lalu menyebut nama Allah, artinya untuk meyakinkan orang lain bahwa diri kita tidak berbohong maka kata2 yg kita ucapkan mengatasnamakan Allah.

bentuk kebohongan ini misalnya engkau menyampaikan sesuatu hukum dalam islam, tetapi hukum itu bukan dari Allah dan Rosulullah. sesungguhnya banyak orang yg memutarbalikkan ayat2 dan menerjemahkan sesuai dengan kepentingan golongannya, partainya atau kepentingan pribadinya, ini sungguh termasuk dosa besar.

oleh karena itu jangan sekali-kali membawa-bawa ayat Allah maupun ucapan Rosulullah hanya untuk kepentingan golongan maupun pribadi, Agama jangan dibuat untuk kepentingan berpolitik, jika Agama dijadikan sarana untuk kepentingan itu, maka yang haram menjadi halal dan yang halal menjadi haram.

Bukankah ayat2 Allah dan sabda Rosululloh itu bertujuan untuk mengatur kebaikan bagi semua ummat, maka jelaskanlah kepada mereka tentang amar makruf nahi mungkar.

Ingat ancaman Allah Swt bagi orang yang mendustakan kebenaran dengan mengatasnamakan Allah Swt.

Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berdusta terhadap Allah, maka mereka menjadi hitam, bukankah dalam neraka jahanam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyomngkan diri. (QS. Az Zumar 60).

Ingatlah bahwa tempat orang-orang yang mendustakan nama nama Allah adalah berada di neraka jahannam dengan menerima siksa yang amat pedih.

Rabu, 05 Mei 2010

Nasihat Berharga BAG 2

11 - Siapa yang menjadikan takwa sebagai modal utamanya, tentu lidahnya tidak akan bercerita tentang jumlah keuntungan agamanya. Dan barang siapa yang menjadikan dunia sebagai modal utamanya, tentu lidahnya tidak akan bercerita tentang kerugian agamanya.

Barang siapa yang menjaga ketakwaannya dengan kesiapan menjalankan semua perintah Allah dan kesanggupan menjauhi larangannya. Artinya semua tingkah lakunya selalu sejalan dengan ajaran syara', maka ia akan memperoleh pahala yang tiada bandingnya. Sebaliknya, orang yang berani melakukan pelanggaran-pelanggaran agama, maka baginya celaan/siksa yang tiada terhingga beratnya sehingga lidah sulit menggambarkan sejauh mana beratnya siksaan itu.

12 - Setiap maksiat yang timbul karena dorongan nafsu, ada harapan memperoleh ampunan. Dan setiap maksiat yang timbul karena sikap sombong, maka harapan ampunan tidak akan diperoleh, mengingat maksiat iblis terjadi, dikarenakan sikap sombongnya, dan sesungguhnya kehinaan berasal dari nafsu syahwat yang tak terkendali.

13 - Siapa yang merasa bangga mengerjakan suatu dosa, maka Allah akan memasukkan mereka ke neraka dalam keadaan sedih. Sebaliknya, siapa yang menangis karena patuh kepada Allah, maka Allah akan memasukkan mereka ke neraka dalam keadaan sedih. Sebaliknya, siapa yang menangis karena patuh kepada Allah, maka Allah akan memasukkan surga dalam keadaan gembira.

Perasaan gembira setelah mengerjakan dosa dan dimasukkan neraka dalam keadaan susah, mestinya justru ia harus menyesali perbuatannya dan memohon ampunan kepada Allah atas perbuatan jeleknya itu. Menangis karena taat, masuk surga dengan gembira karena ia telah memperoleh hasil usahanya di dunia dengan memperbanyak ibadah dan amal baik, ia masuk surga dengan senang/gembira karena memperoleh ampunan Allah.

14 - Jangan meremehkan dosa-dosa kecil, karena pada suatu saat akan menjadi dosa besar.

15 - Tidak dikatakan dosa kecil kalau terbiasa dilakukan. Dan tidak dikatakan dosa Besar kalau selalu dihapus dengan istighfar.

Semua dosa kecil kalau sudah terbiasa dilakukan pasti akan menjadi dosa besar.

Sebaliknya mengerjakan dosa besar tetapi ia segera sabar dan bertobat dengan syarat tobat yang benar, maka tiada sedikit yang sisa padanya kecuali ia diampuni oleh Allah walaupun dosa itu besar.

Nasaihul Ibad

Minggu, 02 Mei 2010

TAWASUL

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada- Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya supaya kamu mendapat keberuntungan.” (Qs. Al-Maidah : 35).



Al-Qur’an menyatakan kepada kita bahwa ada suatu cara pendekatan “al-wasilah” untuk mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, dan kita diperintahkan mencarinya. Salah satu wasilah pendekatan kepada Allah SWT yang kebanyakan kaum muslimin melupakannya, malah oleh rekayasa sejarah dianggap kesyirikan adalah tawassul. Sesungguhnya tawassul dan wasilah berasal dari akar kata yang sama. Tawassul adalah usaha pendekatan kepada Allah melalui perantara yang lebih taat kepada Allah. Karena melalui perantara maka wasilah ini dianggap kesyirikan dengan dalih mengganggap ada selain Allah yang bisa mendatangkan manfaat dan memberikan mudharat atau praktik berdoa melalui perantara sama halnya memohon pertolongan kepada selain Allah. Sesungguhnya dalih ini tidak beralasan menganggap tawassul adalah usaha yang sesat dalam mendekatkan diri kepada Allah. Apalagi menyamakan tawassul dengan menyembah berhala atau praktik tawassul kaum kafir jahiliyah yang menjadikan patung-patung buatan mereka sendiri sebagai perantara diri mereka dengan Allah.

Alasan praktik penyembahan kaum kafir jahiliyah dilarang dan dianggap kesyirikan bukan karena menggunakan perantara melainkan keyakinan mereka terhadap berhala yang mereka jadikan perantara dapat mendatangkan kehancuran dan memberikan manfaat. Alasan selanjutnya adalah mereka menggunakan perantara yang salah, perantara yang menurut prasangkaan mereka dapat memberikan pertolongan padahal yang mereka jadikan perantara tidak dapat memberikan manfaat apa-apa, “Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatu pun bagi mereka.” (Qs. Ar-Ra’d: 14).

Sedangkan jika bertawassul kepada orang yang dekat kepada Allah dan tidak meyakini bahwa yang menjadi perantara memiliki kekuatan sendiri selain dari Allah tetapi yang mereka miliki adalah kedudukan ruhani di sisi Allah dan Allah tidak mengabaikan permohonan mereka apabila mereka berdoa kepada Allah atas diri kita, bukanlah perbuatan syirik. Dan saya akan memberikan beberapa referensi singkat mengenai hal ini.



Memohon Kepada Allah Melalui Perantara



Saya akan mengawalinya dari yang telah menjadi kesepakatan seluruh kaum muslimin, bahwa sesungguhnya tidak ada perbedaan di kalangan ulama bahwa memohon kepada Allah melalui perantara, secara prinsip adalah sah. Tidak ada perbedaan dikalangan ummat Islam mengenai bolehnya tiga jenis tawassul kepada Allah :

1. Bertawassul kepada orang yang sangat dekat kepada Allah yang masih hidup. Contohnya seorang pelajar memohon di doakan oleh ulama agar bisa memiliki konsentrasi penuh dalam belajar. Tawassul sejenis ini juga pernah dilakukan oleh putra-putra Nabi Yakub as, "Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah ". (QS. Yusuf : 97). Begitu juga pernah dilakukan oleh sahabat-sahabat yang meminta kepada Rasulullah saww agar memohon kepada Allah SWT supaya menurunkan hujan bagi mereka. (HR Bukhari No. 1013 dan Muslim 897)
2. Bertawwassul kepada Allah melalui perbuatan baik dan amal salehnya. Contohnya, pada hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam shahihnya tentang tiga orang yang terkurung oleh batu besar dalam sebuah gua. Mereka memohon kepada Allah SWT melalui perantaraan amal-amal saleh yang pernah mereka lakukan.
3. Bertawassulnya seseorang kepada Allah melalui nama-nama-Nya yang indah. Sebagaimana firman Allah SWT, “Dan Allah memiliki Asma’ul Husna (nama-nama yang indah) maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma’ul Husna itu…” (Qs. Al-A’raf: 180).



Karena legalitas tiga jenis tawassul ini telah disepakati, tidak ada alasan untuk menunjukkan bukti. Ketidaksepakatannya adalah bertawassul kepada seorang yang shalih yang telah meninggal dunia.



Disini, saya kemukakan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam al-Hakim melalui rangkaian perawi dari Usman bin Hunaif, "Suatu hari seorang yang lemah dan buta datang kepada Rasulullah saww dan berkata: "Wahai Rasulullah, aku tidak mempunyai orang yang menuntunku dan aku merasa berat" Rasulullah berkata, "Ambillah air wudhu, lalu beliau berwudhu dan sholat dua rakaat, dan berkata: "Bacalah doa (artinya)" Ya Allah sesungguhnya aku memintaMu dan menghadap kepadaMu melalui nabiMu yang penuh kasih sayang, wahai Muhammad sesungguhnya aku menghadap kepadamu dan minta tuhanmu melaluimu agar dibukakan mataku, Ya Allah berilah ia syafaat untukku dan berilah aku syafaat". Utsman berkata:"Demi Allah, kami belum lagi bubar dan belum juga lama pembicaraan kami, orang itu telah datang kembali dengan segar bugar".



Dari hadits ini, praktik tawassul adalah absah dalam ibadah, secara implisit hal ini tidak hanya membenarkan tawassul kepada orang saleh yang masih hidup (seperti Nabi yang waktu itu masih hidup) tetapi juga membenarkan keabsahan tawassul melalui orang yang sudah meninggal dunia juga, karena dari gambaran hadits tersebut, Rasulullah saww mengajarkan rangkaian lafadz do’a tanpa menyampaikan keharamannya untuk dibaca apabila beliau telah meninggal dunia. Artinya setiap memiliki hajat-hajat yang serupa, lafadz do’a tersebut bisa dibaca kapan saja, tidak ada syarat atau kaitannya dengan kehidupan dan kematian Rasulullah saww. Pada hakikatnya, tawassul melalui orang yang masih hidup atau sudah meninggal bukan melalui tubuh fisik, kehidupan atau kematian, tetapi melalui makna positif (ma’na tayyib) yang melekat pada orang itu baik dalam keadaan masih hidup atau sudah meninggal. Tubuh hanyalah kendaraan yang memuat makna, yang dalam dirinya tetap dihormati baik dalam keadaan masih hidup atau sudah meninggal.



Dalam surah an-Nisa’ ayat 64, Allah SWT berfirman: “Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Dan sungguh, sekiranya mereka setelah menzalimi dirinya datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”. Ayat ini menegaskan ketaatan kepada Rasulullah saww tidak memiliki kaitan dengan kehidupan dan kematian beliau, meskipun Rassullah saww sudah meninggal dunia sehingga kaum muslimin pada masa ini tidak hidup bersama beliau dan tidak bisa bertemu langsung namun ajaran-ajaran, pesan-pesan moral serta sabda-sabdanya adalah keniscayaan untuk ditaati bagi segenap kaum muslimin tanpa terkecuali disetiap tempat dan masa. Karenanya demikian pula dengan kasih sayang Rasulullah terhadap umatnya, setiap dari umatnya yang telah menzalimi diri mereka sendiri ‘datang’ kepada Rasulullah dan memohon ampun kepada Allah SWT maka Rasulullah saww pun turut memohonkan ampun buat mereka. Pada bagian yang lain banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang mengindikasikan bahwa kematian bukanlah akhir dari kehidupan. Adalah salah besar jika memahami bahkan meyakini bahwa dengan kematian segala sesuatu yang menyangkut dengan manusia berakhir sudah dan tidak ada yang tersisa dari manusia selain tubuh fisiknya yang secara bertahap kembali melebur menjadi tanah. Al-Qur’an menegaskan bahwa kematian fisik tidak meniscayakan kehidupan ruh juga turut berakhir, melainkan ruh terus hidup meski telah berpisah dengan raganya. Allah SWT berfirman, “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (Qs. Al-Baqarah: 154). Tidak ada keraguan sama sekali, bahwa Rasulullah saww adalah yang termasuk gugur di jalan Allah bahkan yang paling utama. Berdasarkan ayat ini, pada hakikatnya Rasulullah saww masih hidup, masih mendapat rezeki dan nikmat-nikmat dari Tuhannya, maka berdoa dengan menjadikan beliau saww sebagai wasilah masih tetap absah dan berlaku sebagaimana sahabat-sahabat Nabi dimasanya melakukannya. Karenanya, bagi ulama atau kelompok Islam yang mempersyaratkan bahwa tawwasul yang diperbolehkan adalah melalui perantaraan orang-orang shalih selagi masih hidup maka bertawassul melalui Rasulullah saww dan orang-orang yang gugur di jalan Allah termasuk dalam kategori tawassul yang diperbolehkan, dan dalil untuk menyebutnya syirik atau kesesatan tidak cukup kuat sebab akan mendapat penentangan dari Allah SWT, “… mereka tidaklah mati, mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”



Kasih Sayang yang Tak Berkesudahan



Saya nukilkan satu ayat lagi yang semakin mempertegas bahwa terpisahnya ruh Rasulullah saww dengan jasadnya bukanlah akhir hubungan dan keterikatan beliau dengan umatnya. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman. Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (Qs. Al-Ahzab: 56). Perintah Allah SWT untuk mengucapkan salam dengan penuh penghormatan kepada Rasulullah saww bukanlah salam-salam tanpa makna atau sekedar formalitas belaka. Ketika Rasulullah saww bersabda bahwa menjawab salam wajib hukumnya, maka perintah Allah SWT kepada orang-orang beriman untuk menyampaikan salam kepada Nabi Muhammad saww meniscayakan kenyataan yang takkan terbantahkan bahwa Nabi Muhammad saww akan menjawab setiap salam yang disampaikan kepadanya.



Menakjubkan! Adalah sangat tidak adil, jika kaum muslimin yang hidup sezaman dengan Rasulullah saww setiap mereka menzalimi diri, cukup dengan mendatangi Rasulullah saww dan memohon ampun kepada Allah SWT dan Rasulullah saww pun turut memohonkan ampun hanya berlaku semasa Rasulullah saww hidup dan kaum muslimin pasca wafatnya Rasulullah saww tidak memiliki kesempatan serupa untuk dimohonkan ampun oleh Rasulullah saww sementara kewajiban-kewajiban syariat terus berlaku untuk segenap kaum muslimin di setiap masa termasuk mengucapkan salam penghormatan kepada Rasulullah saww. Sangat tidak adil, jika sahabat-sahabat setiap berdosa dapat segera menemui Nabi dan meminta agar Nabi memohonkan bagi mereka ampunan Allah diyakini sebagai tauhid, begitu juga putra-putra Nabi Ya’qub as yang telah meminta kepada ayah mereka agar memohonkan ampunan Allah bagi mereka (sebagaimana tersurat dalam surah Yusuf ayat 97-98) disebut sebagai bagian dari tauhid namun ketika permohonan ampun kepada Allah SWT melalui Nabi-Nya setelah wafatnya disebut sebagai syirik dan membatalkan keimanan.



Untuk mengakhiri tulisan ini, saya nukilkan dua riwayat yang semoga dapat menghilangkan keraguan kita akan keabsahan bertawassul kepada Nabi saww, bahwa tanpa beban psikologis apapun kita katakan, tawassul adalah salah satu mukjizat dan karomah kenabian, Nabi Muhammad saww. Adalah wajar, Rasululah saww sebagai makhluk Allah yang terkasih dan memiliki kedudukan (jah / maqom / wajih) yang sangat tinggi di sisi Allah, diberi otoritas oleh Allah untuk menjadi perantara (wasilah) dan tempat meminta pertolongan (istighotsah) kepada Allah SWT.



Berkata al-Hafidz Abu Abdillah Muhammad bin Musa an-Nukmani dalam karyanya yang berjudul “Mishbah adz-Dzolam”; Sesungguhnya al-Hafidz Abu Said as-Sam’ani menyebutkan satu riwayat yang pernah kami nukil darinya yang bermula dari Khalifah Ali bin Abi Thalib yang pernah mengisahkan: “Telah datang kepada kami seorang badui setelah tiga hari kita mengebumikan Rasulullah. Kemudian ia menjatuhkan dirinya ke pusara Rasul dan membalurkan tanah (kuburan) di atas kepalanya seraya berkata: Wahai Rasulullah, engkau telah menyeru dan kami telah mendengar seruanmu. Engkau telah mengingat Allah dan kami telah mengingatmu. Dan telah turun ayat; “Sesungguhnya Jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS an-Nisa: 64) dan aku telah menzalimi diriku sendiri. Dan aku mendatangimu agar engkau memintakan ampun untukku. Lantas terdengar seruan dari dalam kubur: Sesungguhnya Dia (Allah) telah mengampunimu”. (Lihat: Kitab “Wafa’ al-Wafa’” karya as-Samhudi 2/1361)



Ad-Darami (dalam Sunan Ad-Darami: 1/56), meriwayatkan: Penghuni Madinah mengalami paceklik yang sangat parah. Lantas mereka mengadu kepada Aisyah (ummul Mukminin). Lantas Aisyah mengatakan: “Lihatlah pusara Nabi! Jadikanlah ia (kuburan) sebagai penghubung menuju langit sehingga tidak ada lagi penghalang dengan langit. Lantas ia (perawi) mengatakan: Kemudian mereka (penduduk Madinah) melakukannya, kemudian turunlah hujan yang banyak hingga tumbulah rerumputan dan gemuklah onta-onta dipenuhi dengan lemak. Maka saat itu disebut dengan tahun “al-fatq” (sejahtera)”.



Konklusinya adalah, jika kaum muslimin yang bertemu dan hidup bersama Rasulullah saww setiap melakukan kesalahan atau memiliki hajat bisa memohon kepada Allah SWT dengan perantaraan Nabi, maka kaum muslimin setelahnya pun bisa melakukannya. Rasullah saww adalah rahmat bagi semesta alam, kebaikan dan keberkahannya tidak hanya didapatkan oleh orang-orang yang semasanya dan tidak pula berakhir dengan wafatnya. Kepada Nabi Muhammad saww, Allah SWT berfirman, “…dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) kententraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (Qs. At-Taubah: 103).



Allahumma inni atawajjahu ilaika binabiyyika nabiyyirrahmati Muhammadin shallallahu ‘alaihi wa alihi…



Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dan menghadap kepada-Mu dengan (perantaraan) Nabi-Mu, nabi pembawa rahmat, Nabi Muhammad, shalawat atasnya dan atas keluarganya…

cp note: Zubair DPA

Doa Tolak Bala

ALLAAHUMMADFA' 'ANNALGHOLAA-A WALBA LAA-A WALWABAA-A WALFAHSYAA-A WALMUNKARO WAS SUYUUFALMUKHTALIFATA WASY-SYA DAA-IDA WALMINHANA MAADHOHARO MINHA WAMAABAATHONA MINBALADINAA KHOSSOTAN WAMIN BULDAANILMUSLIMIINA 'AAMMA TAN INNAKA 'ALAA KULLI SYAI-IN QODIIRUN

Wahai Allah, hindarkanlah dari kami kekurangan pangan, cobaan hidup, penyakit2 wabah, perbuata2 keji dan mungkar, ancaman2 yg beraneka ragam, paceklik2 dan segala ujian, yang lahir, maupun idalam batin, dinegri kami ini khususnya, dan seluruh negri pada umumnya, karena sesungguhnya Engkau atas segala sesuatu adalah berkuasa.

Doa penawar dan penyejuk hati dari kesedihan, rasa malas, kebingungan, ketidak mampuan, keterlilitan hutang, dan bakhil .

اللهم إني أعوذ بك من الهم و الحزن, و أعوذ بك من العجز و الكسل, وأعوذ بك من الجبن و البخل, وأعوذ بك من غلبة الدين و قهر الرجال

"Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kebingungan dan keduka-citaan, aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas, aku berlindung kepada-Mu dari sifat penakut dan bakhil, aku berlindung kepada-Mu dari beban hutang penindasan orang-orang".

Sabtu, 01 Mei 2010

Lirik Lagu Panggilan Jihad

Allah hu Akbar Allah hu Akbar Allah Allah hu Akbar…
Kalam suci menentukan ku tuk berjuang..
hidup serentak untuk membela kebenaran..
untuk negara bangsa dan kemakmuran.. hukum Allah tegakkan..
Allah Hu Akbar Allah Hu Akbar Allah Allah Hu Akbar..

putera puteri islam harapan agama…
majulah serentak gemgamkan persatuan… kalam Tuhan..
mari kita memuji mari kita memuja..
peganglah persatuan..kalam Tuhan..

Pemuda pemudi islam bangunlah panggilan jihad rampungkan..
wasiat Muhammad peganglah… harta dan jiwa serahkan…
binalah persatuan.. sirnakan perpecahan.. .persatuan ..kalam tuhan
pertikaian menguntungkan musuh tuhan ..
hanya iman tauhid dapat menyatukan.. .
panggilan jihad tirukan …

ulama pemimpin islam dengarlah… demi agama sadarlah..
hentikan pertikaian.. ciptakan perdamaian.. .
tuntutan agama menjadi tujuan….
panggilan jihad tirukan… panggilan jihad tirukan…

SYIRIK

Janganlah engkau menganggap benda atau sesuatu itu mempunyai kekuatan magis. Janganlah menganggap hal-hal seperti itu dapat memberimu rejeki atau melindungimu. Sebab hal itu termasuk syirik. Syirik adalah perbuatan yang mana engkau menganggap sesuatu selain Allah itu mempunyai kekuasaaan. Orang yang berbuat syirik, baik perbuatan maupun keyakinan, disebut musyrik.

"Orang yang mati dalam keadaan musyrik tiada pengampunan dari Allah. Dosanya akan mengantarkan dirinya ke dalam neraka selama-lamanya. Dalam Al Quran banyak ayat-ayat yang menerangkan larangan berbuat demikian. (QS. Al Kahfi 110)".

"Maka barang siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, hendaklah ia melakukan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.

"Dan sembahlah Allah janganlah mempersekutukannya dengan sesuatu apapun. (QS. An Nisa 76)".

"Dan [ingatlah], ketika kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah [dengan mengatakan]; Janganlah kalian memperserikatkan sesuatu apapun dengan Aku dan sucikanlah rumahku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat, orang-orang yang ruku' dan orang-orang yang sujud.(QS Al Haj 26)".

Maka jangan kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui.

Jauhilah tujuh macam dosa besar yaitu; Mensekutukan Allah, melakukan sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah untuk dibunuh kecuali dengan alasan yang benar [haq], memakan harta anak yatim, memakan riba, melarikan diri pada hari peperangan dan menuduh zina pada wanita yang terhormat dan beriman. HR. Bukhari Muslim

Maukah kalian aku tunjukkan dosa yang paling besar? Beliau mengulangi hingga tiga kali, lalu kami menjawab, baiklah wahai Rasulullah, beliau bersabda; Mensekutukan Allah, berani kepada ibu bapak, lalu beliau duduk dan bersabda lagi; Ingatlah pada perkataan dusta dan sumpah palsu. Lalu beliau mengulanginya terus manerus hingga kami berharap agar beliau berhenti atau diam. HR. Bukhari Muslim

Apa kamu tiada takut jika Allah swt. mengancammu dengan siksa dan sanksi yang sangat berat apabila dirimu tenggelam dalam kemusyrikkan. Sesungguhnya Allah mengancam orang-orang musyrik dengan siksa yang berat Orang musyrik tidak akan diampuni dosanya. Naudzubillah.

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik itu), bagi siapa yang di kehendakinya. Barang siapa yang mensekutukan Allah, maka sesungguhnya ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. An Nisa' 48)".

Bahkan sedikit saja dihatimu terlintas bahwa selain Allah swt. mempunyai kekuatan dan kekuasan yang engkau yakini, maka amal kebaikanmu menjadi sia-sia. Allah menolak amal kebaikkan meskipun sebesar gunung dan seluas lautan.

" Dan sugguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu, jika kamu berbuat syirik, niscaya amalmu akan dihapus dan kamu termasuk golongan orang-orang yang merugi. (QS. Az Zumar 65)".

Tidakkah engkau takut terhadap neraka jahanam. Sebuah tempat yang buruk kelak di hari kiamat. Tempat orang-orang yang menyekutukan Allah swt. dengan sesuatu yang lainnya.

Sesungguanya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka tempat mereka adalah neraka, tidaklah bagi orang-orang dzalim itu seorang penolongpun.

"Orang musryrik juga dianggap kotor hatinya sehingga dilarang untuk memasukki daerah Masjiddil haram. Sedemikan benci Allah kepada oang yang musyrik. (QS. Al Maidah 72)".

"Wahai orang-orang yang beriman, bahwasanya orang-orang syirik itu najis, maka janganlah mereka mendekatkan Masjiddil haram setelah tahun ini. (QS. At Taubah 28)".

Jelaslah bagimu, betapa mengerikan ancaman Allah kepada orang-orang musyrik. Syirik hendaknya dijauhi dan jangan sekali-kali hatimu terlintas sedikit pun dari sifat itu Bahkan terhadap orang musyrik. engkau harus menjauhinya Agar dirimu tidak ikut larut dalam kebiasannya.

"Ikutlah terhadap apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu; tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Dia; dan berpaling dari orang-orang syirik. (QS. Al An 'am 106)".

Tidakkah engkau juga takut jika engkau tidak mendapatkan syafaatnya dari Nabi Muhammad saw. kelak di akhir jaman. Sebab orang-orang musyrik tidak akan mendapatkan doa keselamatan dari nabi Allah.

Adapun orang-orang yang tergolong syirik itu banyak sekali tanda-tanda atau ciri-ciri, misalnya menganggap ada Tuhan selain Allah dan menyebabkan, serta dijadikannya selain Allah itu sebagai tujuan hidupanya, meyakini dengan ikrar yang mantap bahwa Allah itu beranak dan diperanakkan serta Allah itu mempunyai istri, percaya dan yakin dengan ucapan para ahli nujum, juru bade, dukun, dan sebagainya, yang jelas yang menurut hawa nafsu mereka dan mereka enggan untuk menunaikkan zakat serta tidak percaya akan kehidupan nanti.

"Dan celakalah bagi orang-orang yang syirik (musyrik), (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikkan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat.( QS. Fushsilat 6-7)"

Pengikut